Optika Jurnalisme Musik Melalui Kacamata Resmadi

Salah satu hal yang juga menjadi fokus dalam Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya adalah perilaku para konsumen berita hari ini, yang notabene telah memiliki ‘akses belakang panggung’ melalui Instagram maupun YouTube musisi idola mereka. Lantas upaya apa yang harus ditempuh oleh para produsen berita hari ini, dalam menyikapi hal tersebut? Lanjutkan membaca Optika Jurnalisme Musik Melalui Kacamata Resmadi

Mengenang 30 Tahun Awal Kehancuran Milli Vanilli

Banyak peribahasa-peribahasa frontal ketika media memberitakan jatuhnya Milli Vanilli, seperti; Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula atau Sepandai Menyimpan Bangkai Pasti Tercium Juga. Namun saya lebih setuju dengan ungkapan Nietzsche; Terkadang Orang Tidak Mau Mendengar Kebenaran Karena Mereka Tidak Ingin Ilusi Mereka Dihancurkan. Semirip ketika mengetahui orang yang kalian sayang kemudian enggan untuk bersama, sialnya kita cenderung tidak bisa menerimanya bukan? Lanjutkan membaca Mengenang 30 Tahun Awal Kehancuran Milli Vanilli

“Twilight” Mengenalkan Kembali Lady Alma Kepada Dunia

Sedihnya, ibu tercinta Horton meninggal dunia pada bulan April 2017. Bertekad untuk kembali ke musik dan mengambil tempat yang ditinggalkannya, Horton merasa seolah-olah periode hiatus selama sepuluh tahun itu penting bukan hanya karena memungkinkannya ada ruang untuk mengurus ibunya, namun juga untuk mempersiapkan bab selanjutnya dalam hidupnya. Ketika video The General De Kok tentang Mncwabe menari untuk “Let It Fall” menjadi viral, itu hanyalah percikan tak disengaja yang diperlukan Horton untuk menyalakan fase kedua dalam karir-nya. Lanjutkan membaca “Twilight” Mengenalkan Kembali Lady Alma Kepada Dunia

Retrospeksi Zeitgeist; Perangkat Musik

Perangkat apa yang sering dipergunakan untuk mendengarkan berbagai musik favorit kalian hari ini? Apakah gulungan pita magnetic yang kemudian dikemas dalam cangkang plastik berukuran 10 cm x 6,3 cm? Atau kepingan cakram padat yang berbentuk bulat dengan diameter 120 mm? Atau malah opsi terakhir, yaitu mendengarkan musik dengan kocek kisaran 50.000 rupiah per bulan dengan ukuran genggam tangan? Lanjutkan membaca Retrospeksi Zeitgeist; Perangkat Musik