Menyingkap Kredo Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta

Bagi kalian yang sudah menamatkan C-45 seri pertama karya Fajar Nugraha, tak usah berharap banyak untuk menemukan tulisan-tulisan kritis dengan kadar dionysian yang membuat kalian mabuk karenanya. Sebab, di seri kedua C-45 ini kalian hanya akan menemukan rentetan kenangan dari proses pembuatan album perdana Aurette. Seperti yang tertera pada sub-judulnya; memoar. Lanjutkan membaca Menyingkap Kredo Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta

Optika Jurnalisme Musik Melalui Kacamata Resmadi

Salah satu hal yang juga menjadi fokus dalam Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya adalah perilaku para konsumen berita hari ini, yang notabene telah memiliki ‘akses belakang panggung’ melalui Instagram maupun YouTube musisi idola mereka. Lantas upaya apa yang harus ditempuh oleh para produsen berita hari ini, dalam menyikapi hal tersebut? Lanjutkan membaca Optika Jurnalisme Musik Melalui Kacamata Resmadi

Kata; Novel Roman Yang Perkosa ‘Senjani’ Tiada Henti

Entah kapan terakhir kalinya saya dengan khusyuk membaca sebuah karya fiksi dengan plot roman, ingatan tersebut hanya berujung pada potongan-potongan aktivitas tatkala menghentikannya semata, seperti saat menyadari bahwa dunia ini tidak sedang dibangun dengan bercarik-carik puisi, himpunan kisah-kisah fiksi, maupun gelegar imajinasi yang seringnya bermuara pada hal-hal philanthropy. Lanjutkan membaca Kata; Novel Roman Yang Perkosa ‘Senjani’ Tiada Henti

Sisa – Sisa Artefak New Dawn Fades ’18

Setiap hubungan emosional antara manusia dan tempat didefinisikan sebagai sense of place. Bagi saya pribadi mendengarkan sebuah musik secara bersamaan pula akan melahirkan sense of place itu sendiri, lebih dalam lagi ia akan merujuk pada place attachment. Bagaimana ruang sempit nan pengap seperti kamar saya memiliki kontribusi yang signifikan dalam menjabarkan makna emosional sebuah lagu, dimana dalam lagu-lagu tersebut tentu akan menciptakan kenangan-kenangan baru selama saya mendengarkannya. Lanjutkan membaca Sisa – Sisa Artefak New Dawn Fades ’18

Antologi Kedua Herry Sutresna

Saya tak pernah bermimpi maupun berharap banyak jikalau Morgue Vanguard bakal mengeluarkan buku antologi keduanya. Sejak pelepasan antologi pertamanya Setelah Boombox Usai Menyalak (2016) blognya pun jarang aktif, padahal hampir setiap minggu saya bolak-balik singgah di salah satu rumah digital-nya tersebut. Namun sialnya si penghuni jarang berada pada tempatnya, setahun kemudian saya melewatkan beberapa rilis-an album dari Grimloc Records. Lanjutkan membaca Antologi Kedua Herry Sutresna