Mendengarkan Album Debut Hellfreezed, ‘Deduktif’

Jujur, saya baru menemukan mereka 2 Minggu yang lalu melalui tombol rekomendasi following dalam fitur Instagram. Buru-buru saya dengarkan materi mereka di salah satu layanan musik alir populer dengan ciri logo berwarna hijau. Saya pun masih ingat 30 menit pertama mendengarkan album debut ini merupakan 30 menit merasakan kesia-sian yang nihil, yang berkesan dan yang bermakna. Tepat hari ini pula, album debut ini dirilis 2 bulan yang lalu. Lanjutkan membaca Mendengarkan Album Debut Hellfreezed, ‘Deduktif’

Perkenalan Human Inslavement melalui ‘Demosick 2020’

Satu lagi pendatang baru dari skena musik ekstrem Indonesia, kali ini datang dari Timur kota Surakarta yaitu Sragen. Band berpersonilkan 5 orang ini memainkan musik groove/slamming yang cukup ear-catching. Sebagai band pendatang baru, mereka juga cukup berani untuk mengeluarkan materi demo dengan format CD di tengah kondisi perekonomian yang kurang stabil ini. Dalam perilisannya, Human Inslavement bekerja sama dengan satu-satunya label minor asal Tulungagung yaitu Deathwish Records. Lanjutkan membaca Perkenalan Human Inslavement melalui ‘Demosick 2020’

Refleksi The Cloves and The Tobacco melalui EP Jalan Pulang

The Cloves & The Tobacco. Meski aktif sejak tahun 2006, sejauh ini band asal Yogyakarta yang konsisten merekonstruksi musik-musik Celtic/Irish punk/paddy beat ini hanya berhasil mengeluarkan 2 album penuh dan 1 EP baru yang rilis tepat pada bulan Juni. Meski tak cukup banyak memproduksi rilisan album, namun oktet satu ini patut diapresiasi keberadaannya mengingat band-band yang memainkan konsep musik senada masih bisa dihitung dengan hitungan jari. Melalui album perdana The Day with No Sun (2012), The Cloves mati-matian mengenalkan genre ini ke khalayak umum melalui DNA musik Flogging Molly maupun Dropkick Murphys. Lanjutkan membaca Refleksi The Cloves and The Tobacco melalui EP Jalan Pulang

Menyingkap Kredo Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta

Bagi kalian yang sudah menamatkan C-45 seri pertama karya Fajar Nugraha, tak usah berharap banyak untuk menemukan tulisan-tulisan kritis dengan kadar dionysian yang membuat kalian mabuk karenanya. Sebab, di seri kedua C-45 ini kalian hanya akan menemukan rentetan kenangan dari proses pembuatan album perdana Aurette. Seperti yang tertera pada sub-judulnya; memoar. Lanjutkan membaca Menyingkap Kredo Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta

Optika Jurnalisme Musik Melalui Kacamata Resmadi

Salah satu hal yang juga menjadi fokus dalam Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya adalah perilaku para konsumen berita hari ini, yang notabene telah memiliki ‘akses belakang panggung’ melalui Instagram maupun YouTube musisi idola mereka. Lantas upaya apa yang harus ditempuh oleh para produsen berita hari ini, dalam menyikapi hal tersebut? Lanjutkan membaca Optika Jurnalisme Musik Melalui Kacamata Resmadi

Kata; Novel Roman Yang Perkosa ‘Senjani’ Tiada Henti

Entah kapan terakhir kalinya saya dengan khusyuk membaca sebuah karya fiksi dengan plot roman, ingatan tersebut hanya berujung pada potongan-potongan aktivitas tatkala menghentikannya semata, seperti saat menyadari bahwa dunia ini tidak sedang dibangun dengan bercarik-carik puisi, himpunan kisah-kisah fiksi, maupun gelegar imajinasi yang seringnya bermuara pada hal-hal philanthropy. Lanjutkan membaca Kata; Novel Roman Yang Perkosa ‘Senjani’ Tiada Henti