Refleksi The Cloves and The Tobacco melalui EP Jalan Pulang

  • Album: Jalan Pulang (EP)
  • Band: The Cloves & The Tobacco
  • Format: CD
  • Label: WLRV Records
  • Lokasi: Yogyakarta, Indonesia
  • Rilis: 5 Juni 2020

Daftar Lagu

01. Deru Mesin Peradaban04.18
02. Sunyi Tanah Peristirahatan04.48
03. Denting Gelas Akhir Pekan04.31
04. Esensi Whiskey04.19
05. Imaji Masa Muda03.31
21.27

Personil

PizttFiddle, Keyboard, Backing Vocals
Adit TongsengLead Vocals, Acoustic Guitar
Kojack BluesBanjo
Fani BlackWhistles
Abiyoga FazriElectric Guitar, Backing Vocals
KoroDrums
KahfiBass Guitar
EmilAccordion

The Cloves & The Tobacco. Meski aktif sejak tahun 2006, sejauh ini band asal Yogyakarta yang konsisten merekonstruksi musik-musik Celtic/Irish punk/paddy beat ini hanya berhasil mengeluarkan 2 album penuh dan 1 EP baru yang rilis tepat pada bulan Juni. Meski tak cukup banyak memproduksi rilisan album, namun oktet satu ini patut diapresiasi keberadaannya mengingat band-band yang memainkan konsep musik senada masih bisa dihitung dengan hitungan jari. Melalui album perdana The Day with No Sun (2012), The Cloves mati-matian mengenalkan genre ini ke khalayak umum melalui DNA musik Flogging Molly maupun Dropkick Murphys.

Di EP Jalan Pulang ini, kalian tak akan mendengarkan Adit Tongseng menyanyikan lirik-lirik berbahasa Inggris dengan aksen Jawa seperti yang biasa ia lakukan pada 2 album penuh The Cloves sebelumnya. Merujuk kutipan yang tercetak pada kover CD; “[EP ini merupakan] album refleksi tentang proses pendewasaan, manifestasi dari pahit-manis pembelajaran hidup, serta sebuah imaji tentang indahnya masa-masa yang telah lewat. Sebuah perayaan tanpa hingar-bingar yang megah, dimana The Cloves & The Tobacco mencoba kembali bernyanyi dengan bahasa Indonesia.”

Namun saya sepenuhnya tak setuju dengan penggunaan kata kerja ‘kembali’ diatas, sebab sejauh mendengarkan rilisan-rilisan album mereka tak pernah sekalipun saya mendengarkan The Cloves bernyanyi menggunakan bahasa Indonesia—koreksi saya kalau salah. Penggunaan kata kerja ‘kembali’ akan tepat guna jikalau mereka pernah melakukannya di masa sebelumnya.

Sebelumnya, saya sempat khawatir dan ragu saat The Cloves pertama kali mengabarkan bahwa semua lagu di EP ini nantinya bakal menggunakan bahasa Ibu. Sebab, tak ada gambaran singkat mengenai cetak-biru band ini perihal pembuatan lirik dengan menggunakan bahasa tersebut. Anggapan ini tertepis dengan mudah kemudian, saat trek pertama “Deru Mesin Peradaban” dimainkan.

Setidaknya dalam satu dekade terakhir, Yogyakarta memiliki hikayat konflik agraria. Tentu dua kasus yang populer adalah perlawanan Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP KP) dengan perusahaan tambang pasir besi sejak tahun 2006 dan perlawanan Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PPWP KP) saat menolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang berakhir kalah pada tahun 2018.

Di EP ini, The Cloves, lebih ‘mengakar’ dengan isu-isu substantif yang mereka usung. Pula dengan kepercayaan diri penuh yang seakan menunjukkan bahwa inilah identitas baru yang sedang mereka bangun, tak ada imaji-imaji tentang ‘sorai’ mabuk-mabukan merayakan kemenangan setelah melawan musuh ala warga-warga Celtic, maupun imaji tentang berkerat-kerat bir yang terpancang di pojokan bar-bar Irlandia.

Dalam “Deru Mesin Peradaban” misalnya, isu substantif yang mereka gelontorkan sangat dekat dengan apa yang dialami oleh kota mereka yaitu Yogyakarta; Yang mulai pudar / terdesak congkak derap roda peradaban / yang terpinggirkan / yang tersisih oleh deras pusaran kepentingan. Meski menggunakan formulasi musik seperti 2 album penuh sebelumnya, namun ketika gesekan fiddle Piztt beradu dengan accordion milik Emil dan dicampur vokal Adit Tongseng menggunakan lirik Bahasa, imaji-imaji yang saya sebut diatas seakan hilang begitu saja. Dengan lancang akan saya nyatakan bahwa EP ini adalah upaya The Cloves dalam akulturasi, antara musik Eropa dengan budaya tutur Indonesia.

“Imaji Masa Muda”, yang notabene merupakan trek terakhir dalam EP ini sangat tepat dijadikan ‘moshing anthem‘ apabila pandemi COVID-19 ini berakhir. Ketukan drum D-beat milik Koro cukup mudah dijadikan bensin untuk membakar panggung-panggung The Cloves di kemudian hari. Seperti kutipan yang tercetak pada sampul CD, trek ini merupakan retrospektif tentang imaji masa muda mereka yang menyenangkan dan dituangkan kedalam lirik yang cukup implisit.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa banyak lagu The Cloves yang bersinggungan dengan tema alkohol. Bagi saya pribadi, peran tembakau dan alkohol lekat hubungannya dengan ‘esensi’ pertemanan. Sudah banyak individu yang disatukan oleh zat kimia tersebut, pun dengan saya—apabila ada kasus abusif itu sudah beda urusan.

Pula dalam EP ini ada dua lagu yang bersinggungan dengan alkohol, “Esensi Whiskey” yang tak saya pahami maksud liriknya—mungkin mereka sedang mabuk ketika membuatnya. Sehingga melahirkan bait, seperti; Waktu pasti kan menjawab takdir telah tertuliskan / Garis peruntungan pasti takkan sama / Segala yang terbaik segeralah kau syukurinya / Manis dan keras getirnya kehidupan / Bagai aroma Whiskey yang tertuangkan. Kemudian yang kedua adalah “Denting Gelas Akhir Pekan”. Bertulang punggung musik paddy beat yang direpresentasikan melalui petikan banjo Kojack Blues dan lagu ini cocok untuk menemani waktu sore maupun malam-malam kalian yang sedang berteman kesepian.

“Sunyi Tanah Peristirahatan”, merupakan trek memoar yang cukup ilusif—saya kesulitan mencari padanan kata imajinatif. Dikonstruksi dengan ketukan drum D-beat, namun secara lirik bercerita tentang orang-orang yang telah meninggalkan kita duluan.

Terakhir. Selama 21 menit mendengarkan EP Jalan Pulang secara keseluruhan, membuat kalian ingin memutarnya berulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.