Menyingkap Kredo Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta

  • Judul: Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta
  • Penerbit: Elevation Books
  • Tahun: Maret 2020 (Cetakan 1)
  • Penulis: Aris Setyawan
  • Editor: Taufiq Rahman
  • Halaman: XIV + 103

Sepertinya, beberapa orang memang perlu ditampar agar termotivasi mengerjakan sesuatu, dan tidak terus berdiam di zona nyaman.

Aris Setyawan

Kutipan diatas menjadi pembuka percakapan tentang buku seri kedua C-45 Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta karya Aris Setyawan—yang saya nukil dari Bab 1 Pendahuluan, sekaligus menjadi titik pijak bagaimana buku saku ini nantinya akan melenggang bercerita.

Aris mengaku bahwa ia cukup lama tak bersinggungan dengan aktivitas tulis-menulis, ia lebih sering menghabiskan waktunya di depan layar Netflix sembari mengunyah pisang coklat mungkin. Dari sini, saya mulai was-was tentang bagaimana kredibilitas seorang penulis akan terukur.

Saya lanjutkan membaca halaman per halaman, sampai kemudian menemukan tentang hasrat keyakinan dirinya untuk menggasak seri kedua C-45 ini dengan mantra sakti; “Ulasan itu [C-45] bisa ditulis dengan kacamata kepakaran sang penulis sesuai bidang masing-masing.” Pasalnya Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta akan menceritakan perjalanan sekaligus proses kreatif album debut Aurette and the Polska Seeking Carnival, yang notabene merupakan band do’i sendiri. Mantra sakti itu hadir untuk meneguhkan keyakinan Aris bahwa ulasan musik bisa ditulis dengan kerangka subjektif, alih-alih objektif—meskipun saya yakin bahwa tak ada objektivisme dalam mengulas musik.

Bagi kalian yang sudah menamatkan C-45 seri pertama karya Fajar Nugraha, tak usah berharap banyak untuk menemukan tulisan-tulisan kritis dengan kadar dionysian yang membuat kalian mabuk karenanya. Sebab, di seri kedua C-45 ini kalian hanya akan menemukan rentetan kenangan dari proses pembuatan album perdana Aurette. Seperti yang tertera pada sub-judulnya; memoar.

Inkonsistensi Daya Berpikir

Buku ini merupakan buku pertama karya Aris Setyawan yang pernah saya baca, saya belum mempunyai niatan serius untuk mengonsumsi Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya (2017) yang notabene merupakan karya perdana Aris. Jadi, saya hanya berbekal beberapa tulisan yang tercetak rapi di blog pribadinya, guna mengetahui bagaimana karakteristik tulisan do’i.

Selintas, Aris, entah terkadang maupun sering, memiliki krisis kepercayaan diri dalam bangunan tulisannya. Contoh sederhana bisa ditemui pada Bab 1 Pendahuluan, ia berujar; “… terlepas dari apa-apa yang saya tulis di sini—yang tentu akan memengaruhi impresi yang kawan-kawan dapatkan—ada baiknya Anda sudah memiliki penilaian tersendiri: apakah ini sebuah album yang bagus atau buruk?….” Saya kira, penjelasan ini tidaklah perlu, sebab pembaca juga paham betul bahwa perbedaan pendapat dalam berdialektika merupakan ihwal biasa. Do’i seakan takut apabila tulisannya tidak diterima beberapa khalayak, sehingga ia harus menjelaskannya secara rinci yang berfungsi sebagai tameng kalau-kalau ada sanggahan terhadap argumennya.

Pada Bab 3 Karnaval, ketidakpercayaan diri kembali menghinggapi dirinya. Setelah selesai menjelaskan satu demi satu trek pada album debut Aurette and the Polska Seeking Carnival, mantra sakti Roland Barthes yang terkenal itupun ia sematkan pada larik berikutnya; “ketika sebuah karya telah dilemparkan ke publik, maka pengarang karya itu sudah mati.” Kami sudah tahu, Bung. Makanya kami beli bukumu, guna mengetahui sudut pandangmu.

Sewonderland

Saya memang berharap banyak dengan buku ini, meski sempat kecewa di Bab 1 Pendahuluan. Pertama kali saat membaca judul pada Bab 2 Sewonderland, saya optimis akan menemukan formula baru dan segar dari bangunan tulisan Aris. Namun sayang DNA kepenulisan do’i memang sederhana, tak ada diksi-diksi naratif yang menggugah intelegensia pembaca. Aris melenggang bebas seperti sedang mengerjakan tugas akhir sekolah pasca-liburan berakhir lalu menyerahkan ke gurunya karena dikejar deadline.

Di Bab 2 Sewonderland, kalian akan menemukan bagaimana hikayat Aurette and the Polska Seeking Carnival terbentuk dan sekelumit proses yang melatarbelakanginya. Hal-hal teknis seperti bagaimana band asal Bantul ini mengakali apa saja instrumen yang bisa digunakan oleh para personil; “Rian sebenarnya adalah pemain fagot, sebuah instrumen tiup yang hanya bisa dibeli dengan menjual satu petak tanah pertanian. Karena mahalnya instrumen itu Rian memutuskan untuk belajar perkusi saja dan jadilah teman kita ini memainkan conga dan bermacam alat perkusi lainnya.”

Saya kira, kurangnya perbendaharaan kata dan referensi penulis bak kanker yang setiap saat siap menggerogoti eksistensinya dalam dunia tulis-menulis. Saking miskinnya perbendaharaan referensi yang ia miliki, sampai-sampai Aris harus mencomot press release album kedua Aurette yang bertajuk Bloom (2018) kemudian ia tempelkan di halaman dalam buku saku ini. Miris.

Sepertinya, beberapa orang memang perlu ditampar agar termotivasi mengerjakan sesuatu, dan tidak terus berdiam di zona nyaman.

Kutipan tersebut terlahir berkat percakapan antara Aris dengan Taufiq Rahman via WhatsApp, saat pertama kali Elevation mengajak Aris untuk kembali menulis. Nampaknya tamparan itu kurang keras, sehingga Aris masih nyaman dengan formula lawas yang ia gunakan.

Akhirnya, saya pun menghibur diri dengan Kata Pengantar Penerbit sekaligus yang menjadikan kredo (kepercayaan) Elevation untuk merilis buku ini; “seri kedua buku C-45 ini berkisah soal suasana, waktu dan sebuah tempat….” Selain itu, jangan berharap apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.