• Judul: Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya
  • Penulis: Idhar Resmadi
  • Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
  • Tahun: Desember 2018 (Cetakan Pertama)
  • Halaman: xvii + 198
  • ISBN: 978-602-481-059-7

Sebagai negara dunia ketiga, secara general untuk mengetahui perjalanan musik Indonesia—baik musik yang hadir secara nasional maupun internasional—tentu hanya bisa dilacak melalui era post-kolonialisme Belanda. Akses informasi mengenai musik sebagai panggung kultural di Indonesia memiliki berbagai keterbatasannya, contoh sederhana untuk menangkap hal ini ialah melalui era kepemimpinan Ir. Soekarno; yang pada saat itu memiliki pandangan politik lebih condong ke Timur (Uni Soviet) alih-alih ke Barat (Amerika Serikat). Sehingga pengaruh budaya Barat—dalam hal ini musik—dianggap menyesatkan untuk kemajuan bangsanya, berkat identitas politik pula yang kemudian membuat regulasi atas pembatasan berbagai musik—yang kalau dalam jargon beliau disebut sebagai musik ngak-ngik-ngok—ini lahir.

Beruntungnya seorang Idhar Resmadi mampu menangkap berbagai ihwal dalam perilaku musik, yang bahkan hadir sejak di era kolonialisme Belanda. Pendedahan itu ia tuangkan kedalam kerangka jurnalisme musik, sebuah pekerjaan yang sejak dulu hingga sekarang begitu jarang diminati oleh banyak orang. Buku ini juga bisa menjadi acuan bagi siapapun apabila hendak menulis maupun mengabarkan sesuatu tentang musik, yang tak hanya sekedar lewat 300 kata tatkala menuangkannya. Karena bagi Idhar siapapun bisa menjadi seorang jurnalis musik, asalkan ia suka dan bertekad untuk menjalaninya, pun tak harus terikat dengan sebuah institusi pers atau media.

Kehadiran sebuah musik juga tak bisa lepas begitu saja dari berbagai fenomena tatkala membuatnya, sederhananya kita bisa menangkap berbagai sesuatu/hal dari sebuah album musik, lebih jauh lagi kita bisa melihat sebuah peradaban zaman tatkala mendengarkannya. Mengutip Taufiq Rahman; “Anda boleh dan bisa melarikan diri dari pencarian akan arti musik, tapi musik akan terus mencari cara untuk menjadi penanda zamannya dan jika perlu akan memaksa Anda untuk mencari arti itu.”

Wajah Majalah Musik di Indonesia

Sebagai generasi yang lahir di tahun 90’an, peran media—dalam hal ini majalah—sebagai sumber informasi tunggal juga pernah saya alami meskipun sebentar. Sempat beberapa kali mengkonsumsi majalah Rolling Stone Indonesia yang hadir pada tahun 2005, yang kemudian tutup usia pada Desember 2017 itu. Sejauh pengalaman saya dalam melihat peta belantika majalah musik yang pernah hadir dalam khazanah jurnalisme Indonesia, dalam kategori usianya paling tua adalah majalah Hai, yang pertama terbit pada tahun 1977. Seketika pengetahuan ini pun menjadi prematur saat tahu bahwa ada beberapa majalah yang usianya jauh lebih tua, dari majalah yang memutuskan untuk berhenti cetak enam bulan lebih cepat dari majalah Rolling Stone Indonesia tersebut.

Melalui Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya Idhar Resmadi mencoba mengenalkan beberapa majalah/surat kabar musik yang pernah menghiasi wajah jurnalisme Indonesia, diantaranya ada majalah Soeara-Nirom yang diterbitkan oleh Radio Soeara-Nirom pada 1940-an. Majalah ini memuat dialektika tentang radio, cerita-cerita legenda, dan profil para musisi & lingkar wilayahnya. Sekitar setahun kemudian hadir pula majalah Swing berkat gagasan seorang Harry Lim, yang notabene merupakan anggota dari komunitas musik jazz Batavia Rhythm Club. Isi dari majalah ini pun mengutamakan segi berita, penerangan, dan kritik seputar musik jazz & musik dansa dari dalam maupun luar negeri. Menurut penuturan Idhar, majalah ini hanya bertahan selama setahun, karena Harry harus pindah ke Amerika untuk menjadi produser musik disana.

Setelah itu tepatnya di Malang, juga pernah terbit majalah musik berbahasa Belanda dengan nama Caecilia. Majalah ini mulai beredar pada bulan Oktober 1941 dibawah penerbit Vereeniging tot Bevordering der Toonkunst in Nederlandsch Indie (Asosiasi Kesenian Hindia Belanda), isinya berupa pembahasan seputar musik klasik Barat serta perkumpulan musik klasik yang dibentuk oleh orang Belanda. Lalu pada tahun-tahun berikutnya hadir pula beberapa majalah musik seperti Musika (1957), Diskorina (1961), Aktuil (1967), dan Vista Musik (1970).

Jurnalisme Umum vs Jurnalisme Musik

Bagi seseorang yang hobi membaca—entah itu tentang musik atau apapun jenis bacaannya—tentu akan merasa jengkel apabila menemui struktur tulisan yang tak memiliki pondasi cukup kuat untuk dijadikan plot cerita, sialnya daftar “tulisan jelek” tersebut malah hadir melalui beberapa media massa online yang notabene adalah megaphone atas perwujudan wajah media itu sendiri. Sederhananya mereka sedang menunjukkan keburukan melalui wajah maupun karakter media yang susah payah sedang mereka bangun. Formula yang digunakan pun cenderung banal, yaitu menggabungkan antara unsur populer-nya akan sesuatu dicampur dengan tulisan redaksi yang miskin editorial, apalagi verifikasi. Entah memiliki kepercayaan diri darimana para produsen berita ini dengan begitu nyaman mengabarkan sesuatu yang buruk, alih-alih menyesatkan pembaca. Sempat saya membuat spekulasi; kinerja media yang buruk akan menghasilkan tulisan yang buruk pula.

Namun hal diatas ternyata disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ruang lingkup redaksi yang kurang dikuasai penulis, tak adanya kedekatan emosional dengan sumber berita yang ditulis, singkatnya para produsen berita/wacana ini berjarak dengan apa yang mereka bicarakan sendiri, kemudian yang terakhir yaitu kedekatan finansial pemilik media massa dengan identitas politik yang ia anut.

Menurut penuturan Idhar, struktur redaksi di surat kabar umum memiliki kelemahan signifikan yaitu tak adanya spesialisasi dalam penulisan berita. Pada awal karir seorang jurnalis akan dirotasi sesuai desk, hal ini akan sangat menyulitkan karena seorang jurnalis kemudian harus mengikuti beragam topik sesuai desk yang menjadi tugas.

Kemudian perbedaan signifikan antara jurnalisme umum dengan jurnalisme musik terletak pada prinsip penulisan, jurnalis umum biasanya hanya melaporkan fakta & data dan sangat jarang mengemukakan sebuah argumentasi dalam laporan beritanya. Dalam artian kerangka penulisannya tidak dibangun atas daya pengetahuan, referensi, maupun pengalaman dengan objek yang ditulis. Karena tak ada hubungan emosional dengan medan sosialnya sendiri. Sedangkan dalam jurnalisme musik, struktur tulisannya bisa sangat subjektif dan begitu personal dengan objek yang ia bicarakan.

Bagaimana Selera Terbentuk

Persoalan selera merupakan permasalahan yang cukup rumit. Sama halnya ketika saya tak menyukai makanan pedas kemudian dipaksa untuk memakan masakan Padang, otomatis langsung saya muntah-kan. Terbentuknya sebuah selera tentu dibarengi dengan berbagai hal yang melatarbelakangi-nya, dan alasan saya tak menyukai masakan pedas ialah karena lambung saya tak pernah mengizinkan. Begitu pula dengan proses terbentuknya sebuah selera musik seseorang, yang juga dibarengi dengan latarbelakang-nya masing-masing.

Gottfried Leibniz—filsuf Jerman yang hidup pada pertengahan abad ke-17 dan abad ke-18—mengemukakan bahwa keindahan suatu karya seni tak dapat kita mengerti sepenuhnya, karena apa yang bekerja bukan kemampuan kognitif semata, melainkan selera yang dibentuk oleh kebiasaan, kebudayaan, dan segenap pengalaman tiap individu sehari-hari yang berbeda-beda.

Pembentukan selera yang dimaksud Leibniz, masuk akal adanya, apalagi di era ketika banyak orang sedang menggantungkan selera-nya dibawah algoritma Artificial Intelligence seperti sekarang. Contoh sederhananya, saya yang setiap hari terbiasa mendengarkan musik-musik metal—dengan latarbelakang menyukai lirik-liriknya yang cenderung kelam karena ada keterkaitan dengan kondisi sehari-hari semasa remaja—mungkin sampai kapanpun akan mendengarkan musik metal, sebelum medan sosial yang saya tempuh belum jua berubah. Pula dengan musik-musik yang tersedia di beranda Spotify saya, hanya akan berkutat dengan musik-musik sejenis, sebelum saya rubah preferensi musiknya.

Idhar menyimpulkan, selera pada akhirnya bukan hanya soal enak atau tidak enak maupun keren atau tidak keren. Urusan selera juga akhirnya memang sangat dipengaruhi interaksi sosial kita. Lebih jauh, selera juga bisa kita lihat sebagai salah satu pembentuk kelas dan medan sosialnya. Ulasan musik adalah salah satu contohnya, bagaimana selera menjadi representasi atas penulisnya.

Munculnya Media Alternatif

Meski nasib media cetak arus utama nampak menjemput ajal seperti halnya riwayat Rolling Stone Indonesia dan majalah Hai, namun geliat produsen berita musik bisa hadir melalui media cetak arus pinggir yang ditandai dengan kemunculan fanzine. Sebuah kultur yang banyak terpengaruh dari budaya punk dengan slogan “Do It Yourself“-nya ini, juga tak bisa dilepaskan peran pentingnya dalam mengiringi perjalanan jurnalisme alternatif di Indonesia.

Pakar komunikasi John Fiske membagi pers ke dalam tiga jenis, yaitu quality press, popular press, dan alternative press. Berdasarkan nama dari ketiga jenis tersebut, tentu kita bisa meneroka apa saja yang bisa masuk kedalam kategori quality press maupun popular press tak lain adalah wajah dari media arus utama itu sendiri. Sedangkan alternative press merupakan representasi dari media arus pinggir melalui fanzine.

Maximum Rocknroll adalah salah satu contoh ideal dalam wajah alternative press hari ini, yang telah berdiri sejak tahun 1982. Di Indonesia sendiri fanzine mulai berkembang pada pertengahan 90’an, ditandai dengan hadirnya Revograms (1995), Mindblast (1996), dan juga Brainwashed (1996). Ketika wajah media arus utama melulu didominasi oleh kepentingan banyak korporasi, fanzine mencoba hadir melalui jiwa-jiwa yang muak akan pemberitaan yang itu-itu saja.

Salah satu hal yang juga menjadi fokus dalam Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya adalah perilaku para konsumen berita hari ini, yang notabene telah memiliki ‘akses belakang panggung’ melalui Instagram maupun YouTube musisi idola mereka. Lantas upaya apa yang harus ditempuh oleh para produsen berita hari ini, dalam menyikapi hal tersebut?

Tentu inovasi adalah kunci jawaban yang paling tepat, menyajikan format cerita/berita dari sudut-sudut yang jarang ditempuh orang kebanyakan. Perlu di-contoh-kan?