Sebagai salah satu negara terkaya dan paling modern di wilayah Amerika Selatan, Chili memiliki sejarah panjang terkait isolasi, penindasan politik, dan isu-isu agama konservatif yang akhirnya memicu berbagai suara-suara vital atas perbedaan pendapat dari para musisi arus pinggir. Warisan perlawanan tersebut bisa dilacak melalui perjalanan musik legenda folk seperti Violeta Parra dan Víctor Jara, yang telah menjadi corong bagi kelas bawah negara Chili pada 1960-an dan awal 70-an, ketika kesenjangan sosial-ekonomi yang telah mencapai level ekstrem dan ketidak-stabil-an politik menjadi panggung utama bagi coup militer yang dipimpin oleh Jenderal Augusto Pinochet tersebut.

Konflik yang terjadi pada 11 September 1973, sebagian besar didukung dan ada intervensi dari pihak A.S. Pada puncak paranoia Perang Dingin, mereka (baca: A.S) menjadi waspada terhadap pemerintahan sosialis Presiden Salvador Allende, apalagi dengan nasionalisasi industri tembaga Chili kala itu. Keserakahan dan campur tangan internasional menyebabkan munculnya rejim 17 tahun Pinochet yang brutal; Surat kabar Spanyol El País melaporkan total ada 40.000 orang yang ditangkap, disiksa, dan atau menghilang, termasuk 3.065 dikonfirmasi tewas dan tambahan 200.000 menuju ke pengasingan.

Jara adalah salah satu korban rejim yang paling terkenal, disiksa dan dibunuh karena kritiknya yang terus-menerus terhadap kemerosotan sosial-politik Chili. Intimidasi dan penyensoran juga menjadi penghalang terbesar bagi para musisi generasi baru, seperti yang terjadi pada band beraliran rock asal Chili, Los Prisioneros. Dibentuk pada tahun 1979 dan dipimpin oleh Jorge González, trio pendatang baru ini merupakan salah satu band rock en español (baca: genre musik rock yang lagu-lagunya menggunakan bahasa Spanyol) pertama di Amerika Latin yang menggunakan suara synthesizer—yang kemudian mengokohkan karya besar mereka Corazones (1990) sebagai salah satu dokumen terbaik dalam genre ini.

Namun dampak dari musik mereka jauh melampaui warisan sonik. Lagu-lagu protes semacam “Tren Al Sur”, “El Baile de Los Que Sobran”, dan “Maldito Sudaca” menjadi lagu pop top-chart yang membedah diskriminasi kelas dan xenofobia, yang akhirnya membuat Los Prisioneros sebagai narrator sosial yang begitu penting ini sering dijadikan target pengawasan pemerintah dan pemadam-an media.

Tradisi pembangkang-an ini masih bergema melalui musik-musik Chili, dalam hal ini khususnya bagi para musisi queer dan trans yang menggunakan platform mereka untuk memprotes dan menumbangkan. Dalam “Siempre Es Viernes En Mi Corazón” karya Alex Anwandter, penulis lagu yang dipengaruhi oleh musik disko dan nueva canción (baca: sebuah gerakan sosial dan genre musik di wilayah Amerika Iberia dan semenanjung Iberia) ini menentang Kongres dan badan-badan gereja, menunjukkan bahwa ia lebih suka melihat mereka terbakar daripada menanggung kesalehan homophobic.

Dalam video vaporwave-flavored (baca: sebuah jenis estetika yang melibatkan warna-warna cerah dan gambar nostalgia dari tahun 90-an) yang bombastis “Espada” karya Javiera Mena, dewi synthpop ini menyusuri jalan raya yang dipenuhi lampu neon kemudian bertemu dengan wanita berpakaian minim, lalu muncul sebuah adegan dari sela-sela kaki yang dibuat secara digital tentang ketertarikan-nya dalam lagu crescendo yang penuh sukacita.

“Saya tidak berpikir bahwa persimpangan antara identitas trans dan kreativitas saya adalah sebuah kebetulan,” kata Kamon Kamon Kamon, seorang wanita trans yang menggabungkan unsur pop dan darkwave kedalam musiknya. Produser dan penulis lagu muda ini adalah anggota inti dari kolektif AMIK, sebuah jaringan yang berkembang dari para seniman LGBTQ+ yang membina kerja sama dan dukungan timbal balik dalam suatu industri (baca: musik) yang menganggap mereka hanya sebelah mata. “Saya akan mengatakan ini paradoks,” ia menambahkan ketika ditanya tentang keadaan terkini untuk para queer dan trans di Chili. “Meskipun membuat terobosan dengan undang-undang anti-diskriminasi (2012), serikat sipil (2015), dan undang-undang identitas gender (2019), kami terus mengalami episode kekerasan yang mengerikan, dan kelompok neo-Nazi terus meningkat.”

Masyarakat Chili telah berkembang dengan begitu cepat sejak 2000-an awal, ketika ekonomi yang berkembang pesat dan munculnya globalisasi menjadikan Chili—bersama dengan Brasil—pemain kunci dalam perdagangan dan pariwisata di Amerika Selatan. Namun, homogeneity budaya di sana sering dilestarikan oleh kondisi geografi yang ter-isolasi di negara tersebut, dan kebangkitan baru-baru ini dari kelompok-kelompok agama sayap kanan yang sangat berpengaruh, seperti Evangelicals dan Mormon, telah memicu jenis konservatif nasional yang sangat khusus.

Homophobia dan trans-phobia tetap sangat umum di negara ini, meski Chili tidak menganut teokrasi, moralitas agama dan obstructionism telah menghentikan banyak pendidikan seksual dan kampanye pencegahan HIV. Hal ini telah berkontribusi pada lonjakan yang mengkhawatirkan dalam tingkat infeksi HIV selama dekade terakhir, seperti publikasi POUSTA yang melaporkan dengan sangat teliti, akhir tahun lalu.

“Saya merasa para seniman telah tumbuh jauh lebih nyaman menampilkan identitas mereka,” kata Namuel, penyanyi pop berusia 26 tahun yang sering menampilkan video dan karya-karya panggung-nya berupa tema homo-erotis grafis dan estetika feminin. “Sebelumnya sangat tabu, dan sekarang hampir trendy.”

Dia benar. Sementara drag queen Hija de Perra dan kelompok pekerja seks trans Las Indetectables telah menjadi suara instrumental dari sindiran dan perlawanan itu sendiri, gerakan mahasiswa dan feminist juga begitu penting dalam beberapa tahun terakhir yang telah membuat wacana tentang keragaman dan membahasnya semakin normal ke ranah publik. Tumbuhnya publikasi independen seperti El Desconcierto, POUSTA, dan Raro Magazine sekarang secara teratur menyoroti artis-artis LGBTQ+, sementara awal tahun ini, kampanye iklan dari H&M mengajak para musisi seperti Fran Straube, Gianluca, Fanny Leona, dan Francisco Victoria untuk mempromosikan katalog pakaian non-biner mereka.

Untuk melihat lebih dekat beberapa artis ini, kami telah menyusun daftar musisi queer dan trans yang memastikan musik Chili tetap tajam dan subversif.

Alex Anwandter

Pangeran pop indie Chili, Alex Anwandter telah mengalami banyak evolusi sejak masa-masa awalnya tampil bersama dengan band rock Teleradio Donoso. Selanjutnya karier solo Anwandter-lah yang memungkinkannya untuk pada akhirnya bisa mengeksplorasi kecemasan sosial seputar seksualitas, identitas, dan sejarah politik Chili yang kotor.

Debut solo-nya, Rebeldes (2012) tetap menjadi salah satu rekaman pop Amerika Latin yang paling dipuji pada satu dekade terakhir, sementara itu Amiga (2016) dan Latinoamericana (2018) membawa potongan isu-isu misogyny, homophobia, kolonialisme, dan rejim Pinochet ke lantai dansa yang berkilauan. Untuk ruang lingkup lengkap oeuvre (baca: substansi yang merupakan pekerjaan seumur hidup seorang penulis, seniman, atau composer) Anwandter, lihat ODISEA (2010) yang eksperimental, serta Alex & Daniel (2013), sebuah catatan kolaborasi yang mendebarkan dengan sesama superstar Chili bernama Gepe.

(Me Llamo) Sebastián

Penyanyi dan penulis lagu theatrical (Me Llamo) Sebastián adalah sebuah antitesis yang mengikuti jejak para pendahulunya, dengan pikiran yang tajam dan suara melodramatik yang ia miliki. Menggabungkan estetika pastel imut dengan bahasa sehari-hari yang melumpuhkan, musik (Me Llamo) Sebastián melakukan osilasi antara autobiografi dan observasi.

Lagu-lagu seperti “Niños Rosados”, “Masaje”, dan “Hijos del Peligro” memutar kisah tentang gender masa kanak-kanak, pekerjaan seks, dan bahaya keberadaan queer, yang di-representasi-kan melalui kisah-kisah video game, anime, dan dongeng pula memperkaya potret yang relate dan sering mengejutkan kehidupan sehari-hari.

Rubio

Hampir tak ada disiplin artistik yang tidak ingin dicoba oleh Fran Straube, ia merupakan seorang penulis lagu, vokalis, multi-instrumentalist, produser, model, dan juga seorang aktor. Straube telah bermain di banyak band, termasuk Picnic Kibun dan Fármacos, namun saat dirinya tergabung dalam trio alt-rock Miss Garrison, yang kemudian mendorong penyanyi berbakat dan perkusi ini menjadi objek sorotan.

Ketika kesuksesan Miss Garrison tumbuh, begitu pula rasa ingin tahu Straube, yang mengarah pada peluncuran proyek solo elektronik-nya Rubio. Dibangun melalui mysticism, instrumen folklorist, dan teknik perkusi digital, Rubio telah tumbuh menjadi salah satu proyek paling menarik dan eksploratif dari landscapes musik Chili yang hijau, pula telah mengecap berbagai petualangan global melalui pertunjukan-pertunjukan di Primavera Sound, SXSW, dan Festival Meksiko NRMAL.

Kamon Kamon Kamon

Me-navigasi industri musik bisa sangat menantang bagi para artis LGBTQ+ yang ingin menumbangkan stereotip dan kehormatan, pula mengapa kolektif dapat memberikan lingkungan yang nyaman bagi seniman untuk bereksperimen dan kolaborasi secara bebas. AMIK (Asociación de Músiques Independientes Kuir) adalah sebuah kolektif yang menciptakan ruang yang aman dan terbuka, di mana para seniman dapat menjadi apa yang mereka mau tanpa harus mengorbankan kreativitas identitas maupun kepribadian mereka.

Synthpop dan produksi musik elektronik adalah bahasa pengantar di antara sebagian besar anggota kolektif ini, yang meliputi Andre Le Feuvre, Barbacius, Fik, Index, Kamon Kamon Kamon, dan Reinder. Seperti yang pernah disebutkan diatas, Kamon Kamon Kamon membuat pop darkwave penuh gaya dengan begitu menariknya, seperti pada single terbarunya “Conquistar el mundo”.

Namuel

Pemuda yang sering menggunakan mode patah hati ini, Namuel, telah melewati garis berbahaya antara penulisan lagu pop dan pemberontakan queer sejak hari pertama. Ia pertama kali mencuri perhatian publik melalui “Lucha Libre,” sebuah lagu konsep ulang dari Jill Sobule “Mexican Wrestler” yang keluar pada tahun 2000-an. Menjelajahi sebuah dinamika kekuatan dan cinta yang tak berbalas melalui video klip kontroversial yang membuatnya berlawanan dengan minat cinta yang jauh lebih tua.

Meski penulisan lagu Namuel diarahkan pada pasar pop, namun karya visual-nya sangat provocative. Dalam “Maldita Ingenuidad,” Namuel dan sekelompok temannya yang menyenangkan mengenakan pakaian feminin; dalam “Yugoslavia,” ia mengajak pasangannya untuk menulis ulang kisah romantis pertama yang pernah mekar di Taman Eden. Dalam rilis baru-baru ini (baca: lagu) ia telah berkembang menjadi bintang pop muda yang memiliki kepribadian yang keras, menjelajahi jurang kesedihan dan gangguan makan (baca: anoreksia) yang mengancam jiwa dalam lagu-lagu seperti “Ganamos”, “Payasos”, dan “Cascabel”.

Fanny Leona

Sementara sebagian besar artis dalam daftar ini harus berkorban selama bertahun-tahun untuk bisa hadir di kancah musik Chili, Fanny Leona membutuhkan waktu yang cukup singkat. Ia pertama kali menarik perhatian publik saat tampil bersama band groove-rock indie Playa Gótica, di mana aura dan aksi panggung yang memukau segera mendapatkan pengikut online yang begitu setia.

Album debut band Amigurumi (2017) merupakan album yang seksi, memainkan tempo cepat dengan sentuhan-sentuhan aneh, yang membawa antusiasme anime ke lantai dansa dengan hits seperti “Fuego” dan “Extraños Visitantes”. Pada tahun 2018, Leona merilis album solo-nya dengan tajuk Ningen, lebih lanjut ia memunculkan otaku-vibes kedalam arwah lagunya sembari memberikan queer dance anthems seperti “Mi Chica Favorita” dan “Fiesta Paraíso”.

Maxwell Morales

Ketika gerakan musik indie Chili datang dengan begitu dinamis, tatapan internasional cenderung mengarah ke ibu kota Santiago. Berasal dari Concepcion di Wilayah Bío Bío, Chili Selatan, Maxwell Morales menciptakan soundscapes avant-garde dengan sedikit lebih banyak sentuhan dari suara efek pedal gitar-nya.

Musik yang dihasilkan Morales menggugah landscapes yang hijau dan iklim hujan di kota asalnya, juga mencerminkan banyak kekhawatirannya sendiri akan cinta dan identitas, seperti yang terdengar dengan indah pada tahun lalu melalui EP Anxiety.

Franco Franco

Di persimpangan synthpop dan musik Andean kalian akan menemukan Franco Franco, seorang produser misterius yang membuat manifesto dansa-dansi melalui penjajahan dan warisan budaya lokal. Aktif sejak 2014, ia pertama kali menarik perhatian publik sejak keluarnya album debut Glamour en el Altiplano (2017), sebuah album konsep yang memadukan mengkilap-nya unsur-unsur suara kelab dengan realisme magic.

Terlepas dari karya solo-nya, Franco Franco juga memproduksi dan melakukan remix untuk banyak artis bawah tanah Chili termasuk Felipink, Arachnida, dan Kamon Kamon Kamon dari kolektif AMIK.


NB: Artikel ini merupakan terjemahan dari Bandcamp Daily