• Judul: Kata; Tentang Senja Yang Kehilangan Langitnya
  • Penulis: Rintik Sedu
  • Penerbit: GagasMedia
  • Tahun: 2018
  • Halaman: 396

Entah kapan terakhir kalinya saya dengan khusyuk membaca sebuah karya fiksi dengan plot roman, ingatan tersebut hanya berujung pada potongan-potongan aktivitas tatkala menghentikannya semata, seperti saat menyadari bahwa dunia ini tidak sedang dibangun dengan bercarik-carik puisi, himpunan kisah-kisah fiksi, maupun gelegar imajinasi yang seringnya bermuara pada hal-hal philanthropy. Alasan tersebutlah yang akhirnya membuat saya meneguhkan iman untuk mengakhiri aktivitas membaca buku-buku fiksi, dengan tanpa mendiskreditkan bagusnya karya-karya mereka tentunya.

Baru pada awal-awal bulan Juli lalu memutuskan untuk kembali membaca buku fiksi, dengan pretensi penasaran belaka dengan karya tulis pemilik akun Rintik Sedu yang notabene podcast-nya sering menduduki peringkat 10 besar di platform musik streaming Spotify tersebut. Siapa yang mengira bahwa sepasang kornea ini rela dibuat begadang sampai beberapa hari, hanya untuk mengikuti alur yang dibuat oleh perempuan berumur 21 tahun yang memiliki nama lengkap Nadhifa Allya Tsana ini. Kata merupakan buku ke-4 do’i, setelah sebelumnya merilis buku trilogi Geez pada rentang tahun 2017-2018.

Cinta Buta Tak Mengenal Mengapa

Ada tiga karakter utama yang coba ditonjolkan oleh Tsana, yaitu Nugraha, Biru, dan Binta. Ketiga sosok inilah yang mengisi lembar-lembar kertas ini akan dibuat hidup karenanya, meski sosok Biru dihadirkan oleh Tsana secara tiba-tiba tanpa pra-duga. Novel ini juga dipenuhi perspektif unik Tsana dalam menyikapi berbagai hal/situasi, yang ia tiup-kan melalui dialektika karakter-karakternya. Seperti ketika sosok Nugraha yang baru dipertemukan dengan Binta; seorang perempuan penyendiri, aneh, yang suka menggambar absurd di potongan kertas koran. Yang pada akhirnya membuat Nugraha jatuh hati karenanya, kerap beradu argumen yang sarat estetika.

"Kalau kamu, Ta? Kenapa pilih komunikasi?"
"Biar bisa belajar cara berkomunikasi dengan baik ... Mungkin?"
"Hasilnya belum juga kelihatan ya, Ta?"
Binta tertawa kecil.
"Mungkin aku enggak akan bisa lulus dari jurusan ini."
"Enggak bisa sama enggak mau beda lo, Ta."

Nugraha digambarkan sebagai pemuda tangguh yang tak kenal lelah untuk terus mencoba mengambil hati seorang Binta, tak sedikit pula yang setelah membaca novel ini—bahkan tidak sampai habis—kecewa dengan sosok perempuan yang digambarkan oleh Tsana ini, pasalnya Binta merupakan perempuan yang cukup acuh dengan kondisi sekitarnya. Hal inilah yang membuat beberapa pembaca novel Kata merasa tidak terima dengan sikap Binta, yang kurang menghargai sesamanya, terlebih Nugraha. Terlepas dari itu Nugraha memang cukup buta terhadap perasaannya, atau kalian boleh menyikapi-nya dengan si Nugraha memang telah menemukan cinta sejatinya, sehingga harus diperjuangkan hingga semangat yang telah kehabisan titik didih-nya sendiri. Apapun respon yang telah dilakukan oleh Binta, Nugraha selalu memiliki sifat positifnya tersendiri.

Nug bergumam dalam hati sambil tersenyum, aku suka Binta yang tidak banyak bicara, tapi ketika satu kalimat keluar dari mulutnya, seakan semesta ini malu karena kalah indah dengan ucapannya.

Mungkin ini juga menjadi salah satu upaya Tsana untuk membuat para pembaca baru maupun lamanya semakin mencandui diksi-diksi buatannya yang sarat metafora, atau malah jijik karenanya? Itu pilihan pembaca.

Simbolis Dalam Kata

Untuk ukuran novel remaja, Tsana cukup berhasil menangkap beberapa situasi dalam kondisi sehari-hari melalui kiasan-kiasan simbolis yang cukup relevan. Seperti ketakutan Binta terhadap polusi ketika hendak menaiki sebuah bus; ‘ia takut polusi itu masuk ke paru-parunya, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin naik burung gereja yang semakin hari semakin menjauhi kota ini.’

Walkman butut satu-satunya yang Tsana gambarkan sebagai teman setia Binta dalam mengarungi rasa sepi itu, juga ia kaitkan dengan suatu kiasan yang tanpa diduga maknanya.

"Oh ... Jadi Binta yang kuno ini suka mendengar radio juga?"
"Kuno? Kok, aku kuno?"
"Walkman-mu?"
"Itu enggak kuno, Nug. Dengan kita menggunakan sesuatu yang sudah tidak ada lagi di masa yang baru, bukan berarti itu kuno, tapi kita menghargai sejarah."

Tsana mencoba menanamkan rasa percaya diri kepada para pembaca-nya, bahwa untuk menyukai terhadap sesuatu itu tak perlu harus mengikuti arus, meski rasa percaya diri niscaya sangatlah jauh dari sosok Binta sendiri.

Simbol burung merpati sebagai vertebrata yang tak memiliki rasa dendam karena tidak memiliki kantong empedu ini, juga Tsana kaitkan dengan sifat-sifat Binta yang sarat kontradiksi, karena si Binta memang cukup pandai menyimpan rasa benci maupun dendam di dasar hatinya, yang berujung pada tidak bersyukurnya ia terhadap proses apapun yang sedang dan akan terjadi pada hidupnya. Dalam hal ini kerja keras Nugraha lah yang paling kentara untuk meyakinkan pujaan hatinya, agar terus bersemangat menjalani hidupnya sendiri.

Sampai pada simbolis sebuah cermin yang secara diam-diam Nugraha belikan untuk Binta, agar dirinya bisa terus bercermin dengan rasa percaya diri terhadap apapun yang dimiliki. Seperti yang sempat saya bilang diatas, Binta adalah sosok yang niscaya jauh dari rasa percaya diri.

Charles Rumpley, Pulau Hatta & Banda Neira

Tsana cukup cerdik memanggil “arwah lokasi” kedalam ceritanya, ia sadar bahwa Pulau Banda Neira adalah landscape yang tepat untuk dijadikan latarbelakang imajinasi-nya. Menilik dari sub-judul novel ini saja; tentang senja yang kehilangan langitnya, pastilah pikiran kalian akan bermuara pada kutipan tentang senja dan secangkir kopi yang terkenal itu, atau minimal membaca buku ini sembari mendengarkan lagu dari band-band folk lokal agar terkesan relevan.

Banda Neira dihadirkan Tsana secara tiba-tiba, sebuah tempat dimana ada sesosok yang telah sejak lama menempati ruang hati Binta, yaitu Biru. Dari sini perempuan berkaca mata dan bertubuh mungil ini bertemu dengan masa lalunya, alur cerita pun seringnya memuat kilas balik dari kisah mereka berdua. Biru merupakan teman Binta sedari kecil sewaktu masih tinggal di Jakarta, dan memutuskan berpisah sewaktu lulus SMA. Mereka berdua dipertemukan kembali melalui Cahyo, teman satu-satunya Binta ketika pertama kali memasuki universitas.

Berjarak tempuh sekitar 25 kilometer dari timur Banda Neira, kita diajak Tsana sejenak untuk mengunjungi Pulau Hatta, sebuah tempat bersejarah yang memiliki sarat hubungan dengan salah satu tokoh dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan yaitu Bung Hatta, ketika beliau diasingkan gara-gara PNI dianggap membahayakan kolonialisme Belanda. Cerita urban tentang kematian Charles Rumpley melalui catatan kerinduan terhadap keluarganya, yang ter-gores pada kaca jendela Istana Mini juga tak luput dari pantauan-nya. Seakan Tsana berpesan; ayo kawan, kita ke Banda Neira!

Alur Yang Lambat dan Akhir Yang Tergesa

Meski novel ini memiliki ketebalan hampir 400 halaman, namun jangan berharap kalian akan disuguhi eksplorasi cerita yang menarik perhatian. Tsana sebatas berkutat pada pendedahan karakter Binta yang memiliki sifat keras kepala, acuh pada keadaan sekitar, yang merasa hidup dalam ruang imajinasi Biru—dalam ruang imajinasi Biru, Binta berubah nama menjadi Senjani.

Mungkin maksud Tsana ketika memutuskan untuk bermain di plot yang melulu sama, ia berharap karakter Binta bisa merasuk kedalam diri para pembaca-nya. Namun apa daya, karakter Binta yang ia gambarkan mungkin terlampau jauh dari kehidupan nyata, ditambah kesabaran Nugraha yang seakan tak ada batasnya. Hadirnya tokoh ketiga, yaitu Biru adalah representasi atas kutipan yang dibuat oleh Tsana di awal-awal ketika kita membuka buku ini.

Untuk yang terjebak di masa lalu, untuk yang sedang melangkah ragu, buku ini akan membantumu beranjak dari kata yang lalu, ke kata yang baru.

Transisi menuju akhir cerita juga terkesan tergesa, bagaimana ia menutupnya dengan hitungan ‘sepuluh tahun kemudian’ hanya sekian menit ketika kita beralih dari halaman satu ke halaman lainnya, meski hitungan ‘sepuluh tahun kemudian’ tersebut sudah ia prediksi dengan kejadian ‘sepuluh tahun yang lalu’ ketika Binta dan Nugraha menjalani hari-hari bersama.

Saya paham betul apa yang dirasakan kawan-kawan di luaran sana yang bosan dengan rentetan alurnya, pasalnya ketika kita mulai memutuskan untuk membaca buku—dalam hal ini novel—waktu kita juga habis terkuras karenanya, maka terkadang memang membutuhkan kesabaran ekstra apabila hendak menyelesaikan membaca sebuah buku.

Namun seringnya kita kalut dalam ketakutan, bahwa waktu akan terbuang sia-sia apabila kita berkutat dengan buku yang memiliki alur cerita yang kurang menarik perhatian, yang ujungnya berkesimpulan prematur dalam menyikapi berbagai hal. Sederhananya kita menjadi sok tahu, padahal gagal paham.