Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed.

Friedrich Nietzsche

Milli Vanilli merupakan duo R&B asal Munich, Jerman. Ialah Frank Farian otak dibalik pembentukan grup yang terdiri dari Fab Morvan dan Rob Pilatus ini, pada tahun 1988 silam. Mereka juga pernah mendapatkan Grammy Award for Best New Artist pada 21 Februari 1990, berkat album debut All or Nothing (1988) versi Eropa, yang empat bulan kemudian dikemas ulang menjadi Girl You Know It’s True (1989) versi Amerika Serikat.

Milli Vanilli menjadi salah satu pelaku pop paling populer di akhir 1980-an dan awal 1990-an dengan jutaan rekaman terjual, namun kesuksesan tersebut tidak bertahan lama ketika Morvan dan Pilatus membeberkan sebuah rahasia terbesar dalam rekam jejak sejarah musik kala itu. Duo ini dengan terus terang mengatakan kepada awak media bahwa yang selama ini mereka lakukan adalah sebuah kebohongan, pasalnya Morvan dan Pilatus tidak pernah menyanyikan vokal apa pun dalam lagu-lagu Milli Vanilli alias lip-sync. Akhirnya piala Grammy Award for Best New Artist yang pernah mereka dapatkan, dengan segala keraguan dan konsekuensi kehancuran yang akan mereka dapatkan kelak pun dikembalikan.[1]

Awal Perjalanan, 1988-1989

Rob Pilatus seorang pria kelahiran Munich bertemu dengan seorang laki-laki keturunan Perancis, Fabrice Morvan, saat seminar dansa di sebuah kelab di Los Angeles. Dan sialnya keduanya memiliki pengalaman yang serupa, yaitu bagaimana manusia kulit hitam selalu dinomorduakan di lingkungan kulit putih.[2]

Secara kebetulan mereka berdua dipertemukan kembali ketika sedang berusaha mencari pekerjaan sebagai penyanyi cadangan di Munich, di sana mereka pun bertemu dengan seorang produser musik asal Kirn, Frank Farian. Yang kelak akan memberinya sebuah ‘Kotak Pandora’ bernama Milli Vanilli tersebut. Tak berselang lama, duo ini kemudian merekam album pertamanya dibawah Hansa Records, yang hanya mampu menjual beberapa ribu keping rekaman album mereka.[3]

Farian menandatangani kontrak dengan keduanya pada 1 Januari 1988,[4] mewajibkan mereka untuk merekam 10 lagu selama setahun.[5] Namun nyanyian mereka berdua di dalam studio rekaman tidak membuat Farian terkesan. “Kedua orang ini datang ke studio, mereka merekam, tetapi mereka tidak memiliki kualitas yang cukup,” ungkap Farian.[6]

Pada bulan Mei, Pilatus dan Morvan sedang melakukan tour ke Spanyol, Prancis dan Italia. Dan salah satu yang menjadi daya tarik duo ini ialah dandanan mereka yang begitu eksentrik, seperti mengenakan celana pendek spandex, sepatu bot setinggi paha, dan gaya rambut cornrow. Kerumunan massa pun akan segera dihibur oleh aksi panggung duo paling populer di era-nya ini.[7]

“Setelah Frank merilis album, dia memberi tahu kami bahwa sudah terlambat untuk berhenti sekarang,” kata Pilatus. “Karena single itu sukses besar, dia berkata, ‘Sekarang kamu harus menyelesaikannya. Aku akan melindungi kalian. Tidak akan ada yang tahu.’ Dia berkata, ‘Ini, aku akan memberimu $20.000 sebagai uang muka.’ Kami yang tidak pernah mendapatkan hit sebelumnya, memutuskan untuk melakukannya. Kami bermain dengan api dan sekarang kami tahu, tapi sudah terlambat.”[8]

All or Nothing dikemas ulang menjadi Girl You Know It’s True untuk pasar Amerika Serikat dan dirilis pada bulan Maret 1989. Album tersebut mengalami sukses besar, menghasilkan lima single yang masuk jajaran lima besar Billboard Hot 100, tiga di antaranya (“Baby Don’t Forget My Number”, “Blame It on the Rain”, dan “Girl I’m Gonna Miss You”).[9]

Lip-Sync dan Reaksi Media, 1989-1991

Beth McCarthy-Miller, yang saat itu menjabat sebagai eksekutif di MTV mengatakan ketrampilan berbahasa Inggris mereka berdua—ketika duo tersebut datang untuk melakukan wawancara untuk pertama kalinya dengan saluran tersebut. Tentang aksen Pilatus dan Morvan yang sangat Eropa, memunculkan keraguan diantara orang-orang yang hadir pada saat itu. Apakah benar dua orang ini menyanyikan lagu-lagu Milli Vanilli?[10]

21 Juli 1989, ketika melakukan pertunjukan live di MTV yang berlokasi di Lake Compounce, Bristol menjadi pertanda awal kehancuran mereka. Rekaman lagu “Girl You Know It’s True” mengalami macet dan skip berulang kali pada bagian “Girl, you know it’s …” lewat pengeras suara. “Saya tahu saat itu juga, itu adalah awal dari berakhirnya Milli Vanilli,” kenang Pilatus tentang kejadian tersebut. “Ketika suaraku macet di komputer, dan itu terus berulang dan berulang, aku panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku baru saja lari dari panggung.”[11]

Dalam majalah Time edisi Maret 1990, Pilatus pernah menyatakan dirinya sebagai “Elvis baru”, dengan alasan kesuksesan terbesar duo tersebut, mereka lebih berbakat secara musik daripada seorang Bob Dylan, Paul McCartney dan bahkan Mick Jagger.[12] Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Fab Morvan, baru-baru ini pada tahun 2017. Ia mengatakan bahwa Pilatus tidak pernah menggunakan kata-kata itu dan kutipan tersebut diambil di luar konteks, kemungkinan karena Pilatus masih belum fasih berbahasa Inggris.[13]

Kemudian untuk rilis-an album All or Nothing versi Amerika, insert notes nya secara terang-terangan mencantumkan nama Morvan dan Pilatus sebagai penyanyi utama. Hal ini membuat geram Charles Shaw, yang notabene adalah salah satu penyanyi sebenarnya dalam rekaman lagu-lagu Milli Vanilli, lalu ia mengungkap-nya ke publik pada Desember 1989. Ketika mengetahui hal tersebut, Farian langsung menanggapinya dengan memberikan sejumlah uang terhadap Shaw sebesar $150.000 untuk menarik kembali pernyataannya. Namun apa daya, gelombang kritik publik terlanjur terbentuk kala itu, dan sulit untuk dibendung.[14]

Akibat desakan publik yang terus meningkat tentang siapa sebenarnya yang menyanyikan lagu-lagu Milli Vanilli? Ditambah lagi permintaan Morvan dan Pilatus untuk mengizinkan mereka bernyanyi di album berikutnya, membuat Farian akhirnya memutuskan untuk memecat mereka berdua pada 14 November 1990.[15]

Setelah kabar tersebut beredar, berbagai tuntutan hukum diajukan di bawah berbagai undang-undang perlindungan penipuan konsumen A.S. terhadap Arista Records, Pilatus dan Morvan.[16] Salah satu pengajuan kasus diatas terjadi pada 22 November 1990, di Ohio, di mana pengacara mengajukan gugatan class-action dan meminta pengembalian uang atas nama seorang wanita lokal di Kabupaten Cuyahoga, yang telah membeli Girl You Know It True. Pada saat gugatan ini diajukan, diperkirakan setidaknya 1.000 warga Ohio telah membeli album ini.[17]

Pada 12 Agustus 1991, usulan penyelesaian gugatan pengembalian dana di Chicago, Illinois, ditolak. Penyelesaian ini akan mengembalikan uang para pembeli rekaman-rekaman Milli Vanilli yang meliputi CD maupun kaset. Namun, pengembalian uang hanya akan diberikan sebagai kredit untuk rilis-an Arista di masa depan.[18]

Pada 28 Agustus, penyelesaian baru disetujui; mengembalikan sejumlah uang kepada mereka yang pernah menghadiri konser maupun yang membeli rekaman Milli Vanilli. Diperkirakan 10 juta pembeli memenuhi syarat tersebut untuk mengklaim pengembalian dana dan mereka juga dapat menyimpan rekaman yang pernah mereka beli tersebut.[19]

The Real Milli Vanilli, 1991-1992

The Moment of Truth pada awalnya dimaksudkan sebagai tindak lanjut dari album debut Milli Vanilli All or Nothing. Namun setelah terungkap bahwa Rob Pilatus dan Fab Morvan tidak benar-benar menampilkan suara aslinya bersama Milli Vanilli, produser Frank Farian melakukan maneuver dengan membentuk grup The Real Milli Vanilli yang menampilkan penyanyi sebenarnya dalam rekaman tersebut, serta vokalis baru, Gina Mohammed dan Ray Horton. Kabarnya Charles Shaw telah kehilangan kemampuan untuk merekam album ini, setelah dibayar karena bungkam-nya atas keterlibatannya dengan album debut Milli Vanilli. Sebagian besar vokal utama pada The Moment of Truth dilakukan oleh Brad Howell, yang telah melakukan banyak vokal utama pada album All or Nothing. Selain itu, album ini juga menampilkan rapper Icy Bro pada “Hard as Hell” dan Tammy T pada “Too Late (True Love).” Hadirnya The Real Milli Vanilli ke publik pun tak bertahan lama, kurang lebih hanya setahun.

Rob & Fab, 1990-1993

Morvan dan Pilatus pindah ke Los Angeles, California, dan menandatangani kontrak dengan Joss Entertainment Group. Sandy Gallin yang menjadi manajer mereka kala itu.[20] Kali ini mereka berdiri dengan nama sendiri, Rob & Fab, merekam album self-titled yang dibiayai oleh Taj Records pada tahun 1992 dan dirilis oleh Joss Entertainment pada tahun 1993. Hampir semua lagu di album ini ditulis oleh Kenny Taylor dan Fab Morvan, sementara Morvan dan Pilatus menjadi vokalis utamanya.[21]

Karena kendala keuangan, akhirnya Joss Entertainment Group hanya mampu merilis album ini di pasar Amerika Serikat saja, yang notabene adalah pasar prioritas bagi Milli Vanilli. Single “We Can Get It On” dibuat tersedia untuk dapat diputar di radio-radio lokal, sesaat sebelum albumnya dirilis. Namun, kurangnya publisitas, distribusi yang buruk, ditambah skandal lip-sync yang sulit dilupakan publik, berkontribusi pada kegagalan mereka. Akhirnya, album ini hanya mampu terjual sekitar 2.000-an kopi saja.[22]

Resureksi dan Kematian Pilatus, 1997-1998

Baru pada tahun 1997 Farian kembali bekerjasama dengan duo yang pernah ia bentuk dan hancurkan sendiri itu, bedanya kali ini ialah kontrak kerja yang merujuk pada Morvan dan Pilatus adalah sebagai penyanyi utama dalam grup tersebut. Bahkan beberapa penyanyi asli yang sejak awal merekam lagu-lagu Milli Vanilli, mendukung upaya kembalinya Morvan dan Pilatus ke ranah hiburan yang pernah dicapainya namun berumur singkat itu. Seharusnya album ini nantinya akan bernama Back and in Attack (1998), namun Rob mengalami sejumlah masalah pribadi selama produksi album barunya tersebut. Dia mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan melakukan serangkaian aksi kejahatan,[23] yang akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama tiga bulan dan menjalani rehabilitasi narkoba selama enam bulan di California. Yang kemudian diselamatkan oleh Farian.[24]

Menjelang tour promosi album baru pada tanggal 2 April 1998, Pilatus ditemukan tewas di kamar hotel di Frankfurt, karena alkohol dan over-dosis obat-obatan terlarang yang ia konsumsi.[25]

Banyak peribahasa-peribahasa frontal ketika media memberitakan jatuhnya Milli Vanilli, seperti; Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula atau Sepandai Menyimpan Bangkai Pasti Tercium Juga. Namun saya lebih setuju dengan ungkapan Nietzsche; Terkadang Orang Tidak Mau Mendengar Kebenaran Karena Mereka Tidak Ingin Ilusi Mereka Dihancurkan. Semirip ketika mengetahui orang yang kalian sayang kemudian enggan untuk bersama, sialnya kita cenderung tidak bisa menerimanya bukan?


Catatan Kaki:

[1] Chuck Philips, “Milli Vanilli’s Grammy Rescinded by Academy : Music: Organization revokes an award for the first time after revelation that the duo never sang on album.”, Los Angeles Times, diakses dari https://www.latimes.com/archives/la-xpm-1990-11-20-mn-4948-story.html, pada tanggal 23 Juli 2019 pukul 13.52

[2] Andrea Warner, “Girl You Know It’s True: the rise and fall of Milli Vanilli 25 years later”, CBC Music, diakses dari https://www.cbcmusic.ca/posts/12196/the-rise-and-fall-of-milli-vanilli, pada tanggal 23 Juli 2019 pukul 14.50

[3] Chuck Philips, “‘We Sold Our Souls to the Devil’ : In a Wide-Ranging Interview, the Duo Tell the Whole Story About What It Was Like to Live a Lie”, Los Angeles Times, diakses dari https://www.latimes.com/archives/la-xpm-1990-11-21-ca-4670-story.html, pada tanggal 23 Juli 2019 pukul 22.09

[4] Ibid.

[5] Andrea Warner, loc.cit.

[6] Steve Vogel, “The Producer’s ‘Art’Frank Farian And His Famous Fakes”, The Washington Post, diakses dari https://www.washingtonpost.com/archive/, pada tanggal 23 Juli 2019 pukul 23.08

[7] Steve Dougherty dan Vicki Sheff, “Milli Vanilli’s Two Heads Hope Their Grammy Award Puts An End to Silli Vanilli Jokes”, People, diakses dari https://people.com/archive/milli-vanillis-two-heads-hope-their-grammy-award-puts-an-end-to-silli-vanilli-jokes-vol-33-no-10/, pada tanggal 23 Juli 2019 pukul 23.41

[8] Chuck Philips, “We Sold Our Souls to the Devil”, loc.cit.

[9] Gary Trust, “Rewinding the Charts: 25 Years Ago, Milli Vanilli Made History on the Hot 100”, Billboard, diakses dari https://www.billboard.com/articles/columns/, pada tanggal 24 Juli 2019 pukul 10.00

[10] Craig Marks dan Rob Tannenbaum, I Want My MTV: The Uncensored Story of the Music Video Revolution (New York: Dutton, 2011), hlm. 362-363.

[11] Chuck Philips, “We Sold Our Souls to the Devil”, loc.cit.

[12] Jay Cocks, “Two Scoops Of Vanilli” Time Magazine, 5 Maret 1990

[13] djvlad, “Fab on CD Skipping During Milli Vanilli Performance, Lip Syncing Rumors”, YouTube, diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=ua8UfLJ9Hik, pada tanggal 24 Juli 2019 pukul 21.01

[14] Bob Mack, “Down with Milli Vanilli”, Entertainment, diakses dari https://ew.com/article/1990/11/30/down-milli-vanilli/, pada tanggal 26 Juli 2019 pukul 14.44

[15] Richard Harrington, “Pop Duo Milli Vanilli Didn’t Sing Hit Album”, The Washington Post, diakses dari https://www.washingtonpost.com/archive/, pada tanggal 26 Juli 2019 pukul 15.01

[16] AP, “Judge Rejects Milli Vanilli Refund Plan”, The New York Times, diakses dari https://www.nytimes.com/1991/08/13/arts/, pada tanggal 26 Juli 2019 pukul 15.28

[17] Ulysses Torassa, “Suit seeks refunds for Ohioans who bought Milli Vanilli album”, WebCite, diakses dari https://www.webcitation.org/5nSSah1j9?url=http://www.dworken-bernstein.com/articles/suit-seeks-refunds/, pada tanggal 26 Juli 2019 pukul 15.45

[18] AP, loc.cit.

[19] Reuters, “Small Victory for Milli Vanilli Fans”, The New York Times, diakses dari https://www.nytimes.com/1991/08/31/arts/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 15.27

[20] The Associated Press, “Hollywood Agent and Producer Sandy Gallin Dead at 76”, CBC, diakses dari https://www.cbc.ca/news/entertainment/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 17.10

[21] Documentary, “Milli Vanilli: From Fame to Shame (2016)”, IMDb, diakses dari https://www.imdb.com/title/tt6693994/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 18.05

[22] Ed Pilkington, “Hollywood to Immortalise Pop Frauds”, The Guardian, diakses dari https://www.theguardian.com/world/2007/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 18.35

[23] Jet, “Ex-Member of Milli Vanilli Arrested for Terrorist Threat”, Google Books, diakses dari https://books.google.co.id/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 21.34

[24] Pierre Perrone, “Obituary: Rob Pilatus”, Independent, diakses dari https://www.independent.co.uk/news/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 21.51

[25] Chris Willman, “Mourning Rob Pilatus”, Entertainment, diakses dari https://ew.com/article/1998/04/17/, pada tanggal 27 Juli 2019 pukul 22.00