Pada awal-awal bulan Mei lalu Elevation Books mengeluarkan buku terbarunya ‘Demi Masa, Kapsul Waktu, dan Nostalgia Radikal’, yang merupakan seri pertama dari C-45. Pada kesempatan kali ini Fajar Nugraha yang di daulat sebagai penulis pertama mereka. Tenang, ini bukan buku Fajar Nugraha yang memilih profesi sebagai comic tersebut. Fajar yang satu ini adalah pemuda kelahiran Bandung yang biasa menjadi redaktur kolom musik di Metaruang. Dan berbahagialah bagi kalian yang pada akhir 2018 lalu telah memiliki album kolaborasi dari Morgue Vanguard & Doyz dengan tajuk Demi Masa, yang akan di-ulas secara rigid oleh Fajar dalam buku saku ini. Kalau pada bulan Agustus tahun lalu Morgue Vanguard mengeluarkan kumpulan catatan rap nerd selama satu dekade, kali ini giliran Fajar Nugraha yang mengeluarkan catatan rap nerd bagi Morgue Vanguard. Dengan catatan tanpa mendiskreditkan Doyz tentunya.

Selama saya menelusuri ulasan-ulasan album Morgue Vanguard, sejauh ini hanya Fajar yang mampu mengulas album hip hop ter-rumit yang dimiliki khazanah per-musik-an rap tanah air tersebut, 11/12 tatkala Morgue Vanguard menguliti album-album hip hop klasik favorit-nya. Dari mulai babakan rapper heroes yang kemudian memengaruhi MV dalam menulis musik, sampai ke-terikat-an penulis dengan berbagai ihwal gerakan akar rumput atau isu-isu militan di pelosok-pelosok yang seringkali tak dijamah media besar. Membuktikan bahwa memang siapapun yang ingin mengupas album ini harus terlibat langsung dengan fragmen lirik yang seringkali disematkan MV, atau minimal memiliki concern penuh di ranah yang seringkali dibicarakan rapper yang mengawali karir di scene hip hop lokal sejak tahun 1994 tersebut. Contoh sederhananya ialah bait pada lagu “Di Hadapan Babylon”.

Panggil ulang urjensi punk serupa Rondos
Serupa warga Baros membakar beko dan pos
Kurancang rima Ababil yang bidani holokos
Jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos

Fajar sukses menafsirkannya secara gamblang meski isu militan diatas terdengar familiar, namun bagi yang memiliki jarak dengan isu-isu perjuangan warga lokal tentang memukul balik kepentingan kapital sepertinya do’i sukses menggiring opini pembaca untuk mengetahui lebih jauh lagi apa yang sebenarnya ingin disampaikan di dalam album Demi Masa. Karena saya haqqul yaqin tak semua konsumen album ini sepenuhnya paham apa yang kadang dibicarakan MV & Doyz dalam kumpulan rhyme-nya. Seperti yang kita tahu pada bulan Februari 2017 ratusan warga Kecamatan Baros, Kabupaten Serang membakar pabrik pengolahan air PT Mayora, di Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang. Warga beranggapan berdirinya pabrik pengolahan air mineral akan menyebabkan kerusakan lingkungan serta akan merugikan warga petani. Interpretasi judul lagu “Di Hadapan Babylon” yang Fajar yakini sebagai pertarungan juang antara komunitas akar rumput melawan rejim kampiun militer sebagai barikade terdepan-nya ini kemudian menjadi sangat masuk akal. Seperti kutipan terakhirnya pada ulasan lagu ini di halaman 94-95.

Dari “Di Hadapan Babylon” pun kita belajar bahwa maut tak selalu datang dengan sabit berkilat dan jubah hitam yang kerap menyembunyikan muka. Maut bisa saja datang dengan berondongan timah panas, tendangan sepatu lars, pucuk bayonet, pisau belati, atau anggaran subsidi beras miskin yang mesti dipangkas demi pembelanjaan Alutsista yang lebih mutakhir.

Fajar Nugraha

Sering juga kita temui ulasan album yang bahasannya tidak secara holistic, namun dalam kasus buku ini kalian akan dimanjakan dengan ulasan-ulasan lagu pendamping seperti “Sans Temps Mort”, “Testamen (Novum Testamentum)”, dan “Check Your People (Remix)”. Menilik respon Fajar terhadap track kesepuluh MV & Doyz yaitu “Sans Temps Mort” yang ia kaitkan dengan ‘memorabilia yang takkan binasa’ bersama kenangan lagu Siapa Aku milik Deddy Stanzah dan suara hiruk-pikuk terminal Cicaheum Bandung—yang dijadikan samples dalam track ini—juga berhasil menggiring opini massa untuk menggali lebih jauh lagi apa makna yang terkandung dalam potongan slogan dari peristiwa Paris Mei ’68 tersebut.

Kalian pasti ingat Jurnal Ruang juga pernah menerbitkan ulasan album Demi Masa yang ditulis oleh Kareem Soenharjo sekitar akhir bulan Januari. Ada beberapa point of view yang ditulis Kareem perihal album tersebut, salah satunya adalah respon tentang Demi Masa yang tak bisa ditarik ke masa kini—yang hanya berkutat di masa lampau. Bagi Fajar respon tersebut terlalu prematur selagi serampangan, mengingat Kareem selaku MC/Beat-maker dibawah moniker BAP./yosugi. Menyikapi ungkapan tersebut kemudian Fajar melakukan maneuver respon berbekal Retromania yang membagi ihwal nostalgia menjadi 2 kelompok; nostalgia as reverie dan nostalgia as restoration seperti yang diungkap Reynolds dalam bukunya. Sekilas nostalgia as restoration ialah upaya untuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan masa lampau yang kemudian dihadirkan pada hari ini. Kemudian nostalgia as reverie serupa kode yang secara tidak sengaja menghadirkan/memanggil ingatan tertentu seseorang pada kejadian tertentu. Contoh peristiwa dari kedua corak nostalgia tersebut tentu mudah kalian temui dalam babakan album Demi Masa.

Kembali ke pernyataan Kareem perihal konstruksi album Demi Masa yang tak bisa melompat jauh ke masa kini, dibalas Fajar dengan istilah radical nostalgia yang juga bisa ditemui dalam potongan-potongan lirik MV maupun Doyz di Demi Masa. Sekiranya yang dimaksud Kareem tentang komposisi musik hip hop masa kini ialah yang merujuk pada hidangan gulali trap sampai aromanis crunk, seperti halnya yang disampaikan Fajar sebagai penutup tulisannya di babakan respon atas ulasan Kareem. Namun sebagai pembaca budiman sekiranya kita beri tepuk tangan kepada Fajar maupun Kareem yang telah memberi andil dalam literatur hip hop hari ini, berkat orang-orang seperti mereka perbendaharaan musik hip hop akan tetap dibicarakan, didiskusikan, bahkan sampai diperdebatkan sampai ke masa yang tak bisa kita bayangkan. Kemudian apabila tulisan balasan Fajar terhadap Kareem terkesan menjatuhkan lawan, saya rasa tidak, karena kritik adalah bentuk apresiasi tertinggi terhadap seseorang bukan?

Terakhir, mengingat pepat-nya Fajar dalam mengupas album yang sulit membuatnya tidur berulang kali ini mengingatkan kita pada satu hal yaitu sebuah beban yang kelak harus dipikul kepada penulis selanjutnya pada buku seri kedua C-45. Karena lagi-lagi kita terlanjur membuat standar logika dari yang pertama.