Perjalanan mendengarkan musik hari ini menjadi begitu menarik, transformasi konsumsi dari wujud fisik ke bentuk digital adalah ihwal utamanya. Yang kemudian menghadirkan pertanyaan-pertanyaan generik semacam; perangkat apa yang sering dipergunakan untuk mendengarkan berbagai musik favorit kalian hari ini? Apakah gulungan pita magnetic yang kemudian dikemas dalam cangkang plastik berukuran 10 cm x 6,3 cm? Atau kepingan cakram padat yang berbentuk bulat dengan diameter 120 mm? Atau malah opsi terakhir, yaitu mendengarkan musik dengan kocek kisaran 50.000 rupiah per bulan dengan ukuran genggam tangan?

Seorang teman pernah mengingatkan, agar segera menuliskan pengalaman pertama kali saat bersinggungan dengan berbagai aktivitas tersebut. Siapa tahu—di luaran sana—masih ada satu dua kawan, yang belum pernah bersinggungan dengan salah satu dari sekian pertanyaan diatas. Kalau memang belum, keterlaluan memang.

Saya percaya bahwa setiap pertemuan adalah aktivitas yang diawali dengan tanpa kesengajaan, yang kemudian saling terhubung dengan sendirinya. Awal pertemuan dengan susunan suara yang mengandung irama, lagu, dan nada menjadi salah satu contohnya. Terlahir sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, otomatis segala aktivitas yang saya jalankan hanyalah mengampu kepada mereka-mereka yang menghirup udara duluan—yaitu kakak-kakak saya. Dari mulai turunan ilmu, perihal kepercayaan, sampai hal terakhir yang menjadi substansi dalam tulisan ini, yaitu musik.

Fase Kegelapan Kaset, CD, & V-CD Bajakan

Saya masih ingat betul ketika demam grup vokal asal Irlandia, semacam Westlife & Boyzone mulai men-jangkit-i hampir separuh penduduk Indonesia pada fase 2000 an awal sampai pertengahan. Di tingkat lokal, grup rock seperti Jamrud juga pernah memberi peran dalam membentuk relasi sosial saya di kemudian hari. Lalu medium apa yang digunakan kala itu untuk mendengarkan album-album mereka? Hanya gulungan pita magnetic yang dikemas dalam sebuah cangkang plastik seingat saya, atau kita lebih sering menyebutnya dengan istilah kaset. Dengan tanpa mempedulikan tingkat akurasi keaslian dari barang-barang tersebut tentunya.

Era CD & V-CD bajakan juga pernah melintasi hidup saya, sebuah refleksi dari aktivitas seorang kakak perempuan yang kemudian menurun kepada adiknya yang bertahan sampai beberapa tahun kemudian. Pertalian dengan musik melalui kepingan cakram padat yang cukup mengikat kala itu ialah, ketika era film Bollywood mulai menyebar ke pelosok-pelosok desa. Kuch Kuch Hota Hai menjadi contoh populer-nya, entah sudah berapa ratus kali saya dengarkan musik yang menjadi pengiring film tersebut. Dari mulai mendengarkan melalui kanal radio, maupun lewat V-CD bajakan yang lagi-lagi dibeli oleh kakak perempuan tadi.

Jikalau masih ingat, 2002 silam salah satu tokoh fiksi dalam sequel Marvel yang sempat masuk dan kemudian menjadi tren di Indonesia ialah karakter Spider-Man. Disusul sekitar satu tahun kemudian, keren-nya aksi Ben Affleck membintangi film Daredevil cukup membuat sange kakak perempuan saya tadi. Tentu kedua film tersebut tidak dengan mulusnya masuk ke Indonesia, kita harus mengalami fase dimana informasi datang lebih lambat 2 sampai 3 tahun dari seharusnya. Bisa dihitung sendiri, kapan film-film tersebut mulai memiliki akses yang cukup mudah bagi semua kalangan di tingkat lokal.

Kemudian apa hubungan film tersebut dengan aktivitas mendengarkan musik? Tentunya sangat ada. Sekedar informasi apabila kalian tidak sempat bersinggungan dengan hal diatas, sekitar satu bulan kemudian Wind-up Records mengeluarkan soundtracks Daredevil: The Album. Band semacam Fuel, The Calling, dan Evanescence menjadi deretan nama yang mengisi album kompilasi tersebut, yang saya konsumsi melalui format MP-3 dalam bentuk CD bajakan tentunya.

Kala Pencerahan Kaset, CD, DVD & Digital

Ingatan saya mulai memburuk satu tahun terakhir ini, sungguh sulit menyatukan beberapa kepingan memorial yang sudah lama terbuang. Yang ujung-ujungnya tidak ingat sama sekali pada tahun berapa saat pertama kali, membeli sebuah kaset dengan kocek sendiri. Meskipun saya ingat kaset pertama yang terbeli ialah album ketiga dari band hardcore asal Michigan, Walls of Jericho.

Kalian bisa simpul-kan sendiri, bagaimana karakter seseorang yang tumbuh dengan menggunakan perangkat musik bajakan seperti saya akan berkembang seperti apa di kemudian hari—dalam hal ini tentang menyikapi suatu karya musik. Tak akan ada istilah antara benar dan salah, dalam perihal menikmati sebuah album musik di catatan harian saya. Karena sedari awal pribadi yang terbentuk memang seperti itu, tak ada opsi edukasi alternatif yang ditawarkan kakak-kakak saya kala itu. Mendengarkan musik ya seperti ini, sesederhana itu.

Menginjak tahun 2010, sama seperti remaja pada umumnya yang sedang berusaha menyalurkan kegelisahan-nya melalui medium apapun. Berhubung aktivitas mendengarkan musik adalah ihwal utama dalam menjalani keseharian, saya putuskan berangkat ke Surakarta untuk menghadiri acara Rock In Solo dengan seorang teman yang mengingatkan saya tadi. Notabene adalah acara musik dengan skala Internasional pertama, yang kami datangi pada waktu itu. Di situlah pertemuan dengan CD pertama yang saya beli pada akhirnya, album kedua dari band black metal asal Madura Rajam. Seperti yang saya jelaskan diatas, tumbuh sebagai generasi bajakan tentu cukup kaget ketika dihadapkan dengan harga CD orisinal. Perbandingannya sederhana, dulu kita bisa mendengarkan ratusan lagu—melalui MP-3 bajakan—dengan hanya mengeluarkan beberapa puluh ribu. Sedangkan menghadapi kenyataan harga CD orisinal, hanya bisa mendengarkan maksimal 10 lagu dari satu band saja. Tentu begitu banyak pertimbangan kala itu, bagaimana kalau CD-nya enggak bisa diputar atau rusak, tidak mungkin juga untuk dikembalikan—beli-nya saja di luar propinsi. Dengan membulatkan tekad pada akhirnya saya bawa pulang juga CD tersebut, sepulang di rumah generasi yang biasa mengkonsumsi perangkat bajakan ini ter-kagum-kagum tatkala dihadapkan dengan perangkat orisinal. Perbedaan yang mencolok ialah kualitas suaranya, yang lebih jernih dan lebih keras dari biasanya.

Selang beberapa bulan kemudian, saya siapkan dana khusus untuk membeli pernak-pernik band yang mungkin saja bagi beberapa kawan di luaran sana tidak begitu pentingnya. Dengan pretensi untuk mencari kualitas suara yang enak didengar, tanpa mendiskreditkan orang-orang di luar lingkaran saya yang masih menjalani rutinitas musiknya dengan cara konvensional—seperti yang saya lakukan saat pertama kali bersinggungan dengan aktivitas ini.

Kemudian jikalau membicarakan aktivitas mendengarkan musik dengan cara membayar bulanan, ambil contoh populer melalui Spotify. Tidak sedikit di luaran sana yang masih merasa superior, mengharuskan mendengarkan musik dengan cara membeli pernak-pernik seperti yang saya lakukan diatas. Sementara corak pasar musik hari ini diakui maupun tidak, sudah banyak bergeser. Saya termasuk golongan yang sangat berterimakasih atas kehadiran layanan musik streaming, tanpa mengabaikan berapa hitungan profit bagi musisi yang menaruh album-albumnya di layanan tersebut. Setidaknya imbas personal bagi saya, untuk menekan angka download ilegal yang pernah dilakukan sejak beberapa tahun silam.

Berhubung mendengarkan musik adalah perilaku essential bagi setiap individu, entah cara menempatkannya hanya sebagai pengiring di berbagai aktivitas harian. Maupun sampai menempatkannya ke perihal yang lebih transcendental, seperti mengulas albumnya setelah beberapa hari didengarkan. Tak ada pedoman khusus bagaimana cara mengkonsumsi-nya, dengan cara yang paling baik maupun dengan cara yang paling benar. Toh aktivitas mendengarkan musik bukanlah sebuah jalur pedagogi, yang mengharuskan seseorang untuk menggurui satu dengan lainnya. Semakin lama kita melakukan aktivitas yang dilakukan secara berulang, suatu saat si pendengar juga akan paham bagaimana seharusnya memperlakukan karya musisi idolanya. Biarkan waktu dan pengalaman personal yang akan menjawabnya.

Hidup tak sependek penis laki-laki, jangan coba atur gaya berpakaian kami.

.Feast

PS: Apabila kalian tidak menemukan aktivitas mendengarkan musik melalui medium vinyl, itu dikarenakan isi dompet si penulis tidak cukup memadai hingga saat ini.