• Album: Pikiran dan Perjalanan
  • Band: Barasuara
  • Format: Digital
  • Label: Darlin’ Records
  • Lokasi: Jakarta, Indonesia
  • Rilis: 8 Maret 2019

Daftar Lagu

01. Seribu Racun03:31
02. Pikiran dan Perjalanan04:32
03. Guna Manusia04:29
04. Pancarona04:21
05. Tentukan Arah04:34
06. Masa Mesias Mesias03:09
07. Haluan03:11
08. Samara03:43
09. Tirai Cahaya03:49
35:19

Personil

Iga MassardiVokal, Aransemen
AsteriskaVokal, Aransemen
Puti ChitaraVokal, Aransemen
Gerald SitumorangBass, Aransemen
TJ KusumaGitar Elektrik, Aransemen
Marco SteffianoDrum

Bulan kemarin terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja, melalui debut solo Mark Morton yang menjadi album pembuka awal bulan Maret. Merupakan pertanda baik bagi album-album yang akan datang setelahnya, terbukti seminggu kemudian ada 4 album musik yang dirilis secara bersamaan—Barasuara, Dido, Gesaffelstein, dan Misery Index. Belum lagi pada hari-hari berikutnya, berbagai musisi berjejal menawarkan album barunya. Dan berhubung album kedua Barasuara menuai banyak kritik negatif, dari beberapa pendengar setia-nya. Kecewa dengan porsi yang ditawarkan oleh Bara, masih menggunakan formulasi yang sama tatkala membuat album Taifun. Terlepas dari segala harapan-harapan kosong Para Penunggang Badai yang belum terpenuhi, membuat saya ingin mendengarkan album kedua Bara ini lebih intens sekali lagi.

Album ini dibuka dengan trek “Seribu Racun”, secara konsep Iga menawarkan panorama musik yang cukup baru. Lebih rock n roll, potongan-potongan melodi gitar yang mudah ditangkap telinga—notabene merupakan formula baru yang ditawarkan oleh mereka. Disambut dengan “Pikiran dan Perjalanan”, dalam trek ini Iga lebih percaya diri memantapkan posisinya sebagai lead vocalist. Terbukti dengan sepenggal lirik dalam pra-chorus do’i;

Dari dalam gelap amarahmu
Buta melaju
Dari dalam hitam ingatanmu
Buta meraja

Seakan menjawab segala pertanyaan di luaran sana, tentang konsep musik Bara menggunakan formula yang sama layaknya album pertama. Mereka tegaskan dalam chorus-nya;

Belantara masa depan
Pikiran dan perjalanan
Biar kami yang tentukan
Biar kami yang tentukan

Lanjut “Guna Manusia”, secara liris membuktikan bahwa Iga juga merupakan manusia biasa layaknya kita. Yang kadang juga membuat syair-syair sampah hasil daur ulang refleksi sehari-hari, voice-over yang ia lakukan setelah chorus menjadi buktinya. Kita tak butuh data penurunan permukaan tanah dari Cengkareng Barat hingga Kebayoran Baru, karena kita tahu itu. Berkat nukilan tersebut, Bara seolah sedang mencekik lehernya sendiri. Menurunkan tingkat intelektual musiknya, dan terjerembab dalam respons arus massa—bahasa sederhana dari ikut-ikutan.

Beruntung di trek selanjutnya diselamatkan oleh “Pancarona”, yang mengalun lembut dan mudah terserap dalam ingatan ketika term pancarona dinyanyikan berulang. Kemudian saya sempat tertipu pada 20 detik pertama, ketika “Tentukan Arah” berputar untuk pertama kali. Dengan alur musik yang lebih etnik dari trek-trek sebelumnya, sialnya tidak dibarengi dengan ragam lirik yang eklektik. Berhubung ada 3 vokalis di tubuh Bara, seakan mereka menyia-nyiakan kelebihan sumber daya tersebut. Yang bahkan jarang dimiliki oleh band lain, hanya menyajikan bait-bait membosankan seperti tentukan arah, kita teracuni, dan hapuskan waktu dari nurani. Yang dinyanyikan berulang kali.

Separuh perjalanan mendengarkan album ini, akhirnya saya setuju dan paham betul apa yang dirasakan sebagian Para Penunggang Badai. Album ini tidak pantas dijadikan lp, lebih cocok jadi ep. Yang kemudian membuat saya merasa tidak sanggup, untuk meneruskan mengulas album ini secara menyeluruh. Pasalnya dari mulai trek “Masa Mesias Mesias” sampai dengan “Tirai Cahaya”, memang tidak layak untuk dibicarakan. Apabila diteruskan hanya akan melahirkan pengulangan keluh kesah Para Penunggang badai di luaran sana, yang membicarakan kekurangan-kekurangan Bara yang mungkin menjadi kelebihan mereka saat ini.