Musik Berlatar Film

Tahun 1930-an hingga awal 1950-an menjadi sejarah era keemasan produktivitas film yang berlatar musik sebagai tulang punggung, menjadi begitu populer di dunia Barat kala itu. Opsi alternatif ketika menikmati tontonan dari audio visual tersebut, ditandai dengan film animasi keluaran Disney “Snow White and the Seven Dwarfs” pada 1937.

Merujuk pada Wikipedia, film pendek bertema musik pertama kali dibuat oleh Lee de Forest pada 1923-24. Kemudian ribuan vitaphone diproduksi secara massive pada 1926, yang menampilkan berbagai band, penyanyi bahkan sampai penari.

Dalam perkembangannya, film berlatar musik menjadi begitu menggairahkan untuk kita konsumsi secara berkala. Dengan latar belakang tujuan yang beragam, sekadar ingin menjadi bagian dari angka statistik dalam budaya populer—yang kemudian menemukan hal-hal baru setelah menonton-nya. Atau ingin mengetahui sejarah dari musisi yang kita kagumi, atau menjadi pelengkap dari perjalanan studi kalian dalam menempuh rute akademik tertentu misalnya.

Ada beberapa film berlatar musik yang cukup menarik, untuk kalian jadikan referensi obrolan di berbagai tempat tongkrongan. Atau bahkan bisa dijadikan sebuah metode yang unik, untuk mengisi waktu luang yang kadang menjengkelkan/membosankan. Diantaranya:

ReMastered: Who Shot the Sheriff?

Kief Davidson | 2018 | 57 menit | dokumenter | netflix

Apa yang kalian ketahui tentang Bapak reggae dunia, Bob Marley? Apabila yang kalian ketahui sebatas anthem “No Woman No Cry”, yang pesan dan maknanya sering digunakan para remaja laki-laki. Untuk mengekspresikan perasaannya karena tidak memiliki pasangan, kalian sudah melewati batas menyedihkan.

Sekilas tentang Kief Davidson, pria asal New York ini beberapa kali sudah membidani film dokumenter. Salah satu yang populer ialah The Ivory Game (2016), berlatar tentang perdagangan gelap gading gajah yang diselundupkan dari Afrika menuju ke jalan-jalan di Cina.

Kembali ke perihal film dokumenter terbarunya, yang menjadi bagian dari seri ReMastered. Kief menyatukan potongan-potongan video footage Marley semasa hidup, yang kemudian disatukan menjadi satu cerita yang utuh. Membicarakan Bob Marley, secara otomatis kita sedang menyinggung semangat perdamaian yang ia usung—sekaligus menatap nyata kejahatan manusia yang terjadi di Jamaika pada pertengahan 70’an.

Berkat ke-berpihak-an Marley untuk tidak memihak salah satu, dari dua partai politik besar yang berada di Jamaika pada saat itu—PNP dan JLP. Membuat dirinya menjadi sasaran pembunuhan, ia lebih memilih “berpolitik” melalui ajaran Rastafari. Akibat rasa muak-nya melihat para anak muda, yang rela berkelahi demi para politisi.




Taylor Swift’s Reputation Stadium Tour

paul dugdale | 2018 | 2 jam 5 menit | dokumenter | netflix

Beberapa bulan setelah merilis album keenam-nya Reputation, pada awal November 2017 lalu. Penyanyi asal Pennsylvania ini menggelar tour album untuk yang ke-5 kalinya, yang diawali pada tanggal 8 Mei 2018 di Glendale dan berakhir pada 21 November 2018 di Tokyo.

Sang sutradara Paul Dugdale, sudah membidani begitu banyak film dokumenter berlatar musik. Musisi-musisi dengan nama besar seperti Adele, Coldplay, U2 dan bahkan sampai The Rolling Stones sudah pernah ia film-kan. TSRST merupakan venue terakhir, dalam rangkaian album tour Taylor yang diselenggarakan di Amerika Serikat. Konser album Reputation ini juga merupakan manifesto terhadap berbagai rumor negatif, yang menerpa do’i dalam beberapa tahun terakhir.

Sedikit gambaran mengenai film ini, Taylor bukan hanya berhasil menampilkan aksi panggung yang memukau—dengan latar panggung yang ekstra besar. Namun ia juga berhasil memanjakan hati para audience yang hadir pada malam konser-nya, dengan beberapa ucapan-ucapan lugu-nya. Dan tak sedikit pula setelah menonton film ini, perspektif orang-orang yang membenci do’i tanpa alasan sebelumnya. Berubah menjadi begitu menyukai Taylor, sebagai wanita yang memiliki talenta tak biasa.

Video trailer: Tailor Swift’s Reputation Stadium Tour

The Dirt

jeff tremaine | 2019 | 1 jam 48 menit | biografi | netflix

Saya memang tak pernah mengalami bagaimana tren hair metal menjadi begitu populer pada awal 80’an, yang satu dekade kemudian melahirkan budaya emo tersebut. Motley Crue menjadi salah satu representasi sebagai band heavy metal yang melesat tajam pada era itu, dengan mendobrak pasar musik Amerika melalui album kedua mereka “Shout at the Devil.”

The Dirt merupakan film yang diadaptasi dari buku autobiografi Motley Crue sendiri, yang terbit pada 2001. Salah satu yang menjadi daya tarik dari film ini ialah, tak peduli siapapun kalian yang belum pernah mendengar satu pun lagu dari mereka—apalagi wajah para personil. Adalah bagaimana persona Daniel Webber yang berperan sebagai Vince Neil, berhasil menipu para penonton dengan begitu natural-nya. Entah melalui aksi panggung, maupun berbagai hal gila yang dilakukannya.

Video trailer: The Dirt

ReMastered: The Two Killings of Sam Cooke

Kelly Duane | 2019 | i jam 14 menit | dokumenter | all rise films

Membicarakan musik yang lahir pada era 50’an di Amerika, musik soul sebagai salah satu contohnya. Tentu secara otomatis kita juga bersinggungan dengan aturan pemerintah, yang menerapkan sistem pemisah ras/apartheid. Sebuah fase buruk yang dialami bangsa Afrika-Amerika kala itu.

Sam Cooke remaja, mengawali karir di dunia tarik suara ketika bergabung dengan grup vokal gospel The Soul Stirrers. Yang kemudian memutuskan solo karir, dan menjadi sebagai salah satu pelopor aliran musik soul pada pertengahan 50’an. Single “You Send Me” (1957), mengantarkan Sam pada babak baru dalam karir musiknya.

Film dokumenter yang dibuat oleh Kelly Duane ini, lebih menitikberatkan pada hasil investigasi yang melatarbelakangi pembunuhan Sam Cooke. Yang masih kontroversial hingga saat ini, berbagai spekulasi pun terbangun dari puing-puing kecurigaan terhadap kekuatan kulit putih yang memang mendominasi pada kala itu.

Video trailer: ReMastered: The Two Killings of Sam Cooke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.