February Retrospective

Album Yang Melintas Di Februari

Bulan Februari selain menjadi reminder tentang Hari Kasih Sayang yang jatuh pada tanggal 14 itu, juga menjadi reminder untuk saya secara personal. Bahwa draf tulisan yang saya buat di bulan tersebut tak kunjung selesai, dan pada akhirnya menerbitkannya di bulan berikutnya. Sialan, memang.

Ada beberapa nama—dalam hal ini album—yang menarik di bulan Kasih Sayang tersebut, dan tentu ada banyak—album—yang saya lewatkan. Dengan alasan klasik; karena tidak mungkin selama 28 hari saya sanggup melacak album-album baru yang keluar. Berkat kesadaran waktu dan beberapa aktivitas di dunia nyata yang sulit ditinggalkan, menyebabkan album-album yang saya hidangkan tak pernah lepas dari lingkar dengar saya saja.

Dan berikut beberapa daftar album dari lintas genre, yang keluar pada bulan tersebut:

Ariana Grande – thank u, next

8 februari | 12 lagu |41 menit | republic

Awal bulan Februari dibuka dengan album kelima Ariana, sangat produktif mengingat album debut-nya keluar pada tahun 2013. Terlepas dari sampah tidaknya album-album do’i, itu tidak masuk hitungan. Menelurkan album selang satu/dua tahun itu sudah sangat bagus, bagi seorang musisi.

thank u, next berisi 12 lagu pop/R&B generik yang pas apabila diputar di berbagai mini market, soundtracks para ibu-ibu yang sedang kebingungan memilih katalog belanja bulanan-nya.

Album ini juga sangat girly, jujur sangat tidak disarankan para lelaki untuk mendengarkan album ini secara khidmat. Karena Ariana hanya sedang sange di trek “imagine”, mungkin karena kesibukan-nya sebagai figur publik—yang segala gerak-geriknya di-ekspos berbagai awak media—sehingga untuk bercinta saja ia tak memiliki waktu luang dan tempat yang nyaman.

Saya putar album ini beberapa kali, tak juga saya temukan apa yang layak dibicarakan untuk kalian semua. Kalaupun ada itu hanya mengada-ada belaka, ambil saja trek “fake smile” sebagai contohnya. Dengan teknik story-telling ala kadarnya, Ariana coba menjelaskan bagaimana dirinya memasang ‘topeng’ senyum di depan awak media. Sejauh mendengarkan album ini secara intens, hanya trek “ghostin” yang cukup berhasil menyadarkan pendengarnya bahwa Ariana memang seorang musisi. Selebihnya, kalian bisa persepsi-kan sendiri.




ONE OK ROCK – Eye Of The Storm

15 februari | 13 lagu |42 menit | fueled by ramen

Kemudian pada pertengahan Februari quartet asal Tokyo, ONE OK ROCK mengeluarkan album ke-9 dengan tajuk Eye Of The Storm. Semenjak album sebelumnya, Ambitions (2017) yang notabene adalah album OOR dengan warna musik yang cukup baru. Saya sudah mengantisipasi album Toru dkk kelak, akan terdengar seperti apa. Dan benar, instinct seorang fans musik tak pernah meleset.

Berkaca dari proses transformasi Linkin Park, band yang menyita perhatian lewat aksi panggung vokalis-nya yang power full ini. Mengeluarkan album yang terdengar lebih lembut, mudah diserap telinga, dan sialnya banyak trek yang lintas dengar saja. Atau dalam bahasa kritik musik, skip-able tracks.

OOR cukup berhasil mengambil hati para pendengar baru maupun lamanya, melalui single keduanya “Stand Out Fit In”. Sikap confidential yang ditanamkan Takahiro melalui lirik-liriknya, saya rasa cukup mewakili keterkaitan pengalaman maupun peristiwa yang dialami para fans OOR maupun bukan.

Try to color inside their lines
Try to live a life by design
I just wanna be myself, I can't be someone else
Someone else

Secara keseluruhan Eye Of The Storm adalah identitas musik baru yang coba dibangun OOR saat ini, dan didalam hal-hal baru itulah muncul perspektif yang baru pula. Bagi pemuja OOR yang taat di era album-album emo-rock, tentu identitas baru yang ditawarkan mereka saat ini. Akan dianggap mengingkari karakteristik musik, dari band yang mereka puja selama lebih dari satu dekade ini. Kemudian pertanyaannya adalah, kalian termasuk fans musik yang cukup berani untuk menerima sebuah era baru atau bukan?




Avril Lavigne – Head Above Water

15 februari | 12 lagu | 41 menit | bmg

Bagi saya yang tumbuh dengan album debut Avril (Let Go: 2002) akan selalu menganggap apapun karya yang dikeluarkan penyanyi asal Kanada tersebut, akan tetap relevan bagi saya secara personal—bahkan mungkin sampai kapan pun. Mengingat ia adalah sosok lady rocker—kalian boleh menambahkan kata ‘punk’ didepan kata rocker kalau mau—pertama yang saya kenal, sehingga glorification terhadap dirinya tentu menjadi alasan tersendiri.

Head Above Water merupakan album keenam dirinya, enam tahun paska pelepasan album self-titled nya. Seperti yang kalian tahu, album terakhir Avril ini terdengar lebih lembut secara teknis. Paling tidak membandingkannya dengan album kelimanya, yang lebih up-beat.

Head Above Water adalah album kontemplasi bagi Avril sendiri, yang menceritakan perjuangan hidupnya melawan penyakit Lyme yang menggerogoti dirinya sejak tahun 2014. Sehingga cukup masuk akal, apabila album ini terdengar lebih personal.




Boyce Avenue – Cover Sessions, Vol. 5

15 februari | 27 lagu | i jam 40 menit | 3 peace records

Trio Manzano kembali lagi dengan album cover-nya, dengan durasi yang memekakkan telinga. Hampir 2 jam kita disuguhi musik balada, yang menjadi ciri khas band ini sejak 2008. Ketika memutuskan, untuk membuat album cover. Sampai saat ini album orisinal band yang bermarkas di Florida ini, memang lebih sedikit dibanding album cover-nya sendiri. Hanya 3 album dan 1 EP, sejauh ini.

Target pasar musik mereka sepertinya memang ditujukan ke situ, saya sampai malas menghitung sudah berapa album yang mereka buat. Lantas apa yang membuat band ini laku keras, di pasar musik cover dunia?

Menurut analisis sok-tahu saya, kita akan dapat melihat sekaligus mendengarkan berbagai band/penyanyi pujaan kita dalam satu panggung secara bersamaan. Atau minimal berbagai lagu yang kita gemari, bisa kita dengar hanya dengan melihat satu sosok band. Yang secara kebetulan, di-representasi-kan melalui wujud Boyce Avenue.

Kapan lagi kita akan mendengarkan trek-trek memorabilia macam ‘I Miss You’ (Clean Bandit), ‘Morning Glory (Oasis), ‘Torn’ (Natalie Imbruglia), dan masih banyak lagi tentunya, dinyanyikan di panggung yang sama. Mungkin akan timbul permasalahan apabila kita yang sebagai fans musik ini, secara getol menolak trek-trek orisinal band/penyanyi idola. Digubah/dinyanyikan oleh orang lain, itu sudah beda cerita.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.