“Reminiscence” adalah upaya untuk mengingat kembali sebuah pengalaman maupun peristiwa tentang masa lalu, yang ia kumpulkan lalu dibagikan ke khalayak ramai maupun ke ranah personal. Sederhananya, berbagi kisah pribadinya dengan orang lain.

Selanjutnya, tulisan ini akan bermuara kesana. Sembari berharap, syukur-syukur bisa membangun hubungan yang sarat kesan dan makna.

Kita coba mundur satu bulan kebelakang, kira-kira ada apa saja di bulan Januari? Apakah ada album musik yang menarik?

Kalau tidak keberatan, mari kita pecahkan bersama pertanyaan-pertanyaan diatas.

Yvette Young – Piano EP

1 Januari | Self-Released

Awal Januari, dibuka dengan EP ketiga Yvette—gitaris band Covet kalau kalian belum tahu. Berbeda dengan 2 mini album sebelumnya, yang menggunakan format full gitar akustik—sekaligus menjadi seorang vokalis. Kali ini cewek yang hobi pelihara unggas ini, mencoba keberuntungan dengan menggunakan suara piano.

Berisikan 5 lagu, tanpa ada suara vokalis. Kita dituntut untuk membuat narrative sendiri, kisah-kisah apa saja yang berada dalam mini album ini. Jujur, yang membuat album ini terlihat cukup menarik adalah porsi violin yang berperan sebagai tulang punggung per-lagunya. Bahkan, suara cello yang dimainkan musisi tamu Daryll Jaye pun tak cukup membantu.

Piano adalah suara aneh debur ombak dan riak-riak kecil yang menyapu pasir dalam “Captain”, yang disambut kicau burung-burung kecil dalam “Reminisce”. Yang kemudian dibakar secara perlahan dengan “Jolt”.

Regular Kid 98 – Epidemi, Pt. I

3 Januari | Self-Released

Sebenarnya debut EP dari mc asal Semarang ini akan dirilis pada akhir tahun 2018 lalu, namun apa daya tenggat tanggal ternyata tak mampu melawan rumit-nya keadaan. Akhirnya, mini album berisikan 5 track ini pun harus keluar tak sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Regular Kid atau yang bernama lengkap Farras Rayhan ini mengawali karir-nya pada 2017 lalu, dengan single pertamanya “Fantasi Gang Sempit”—dengan delivery mirip Mr. EP. Cukup menyita perhatian khalayak hiphopheads pada saat mengeluarkan lagu keduanya “Kepada Jalan Raya” di tahun yang sama, dengan rhyme sederhana ia coba menceritakan keresahan-nya terhadap arus hilir-mudik jalanan kota.

Lalu akhir 2018 lalu doi mengeluarkan single-nya lagi, dengan titel “Adegan.” Kualitas liriknya pun semakin prima, dibantu beat-maker Senartogok dalam produksi musiknya. Oh iya, apabila kalian ingin mendengarkan RATM versi hip-hop bisa cek trek berjudul “Tubir.” Atau pandangan objektifnya terhadap pekerja seks komersial, dalam “Sebut Saja Mawar.”

Secara keseluruhan, EP perdana ini tidak akan membuat 14 menit kalian terbuang sia-sia. Malahan, kalian akan berharap kapan Epidemi, Pt. II akan segera keluar?

Mark Deutrom – The Blue Bird

4 Januari | Season of Mist

Satu hari kemudian, kita mendapati album baru dari musisi multi-instrumental Mark Deutrom. Memang, perlu ekstra sabar apabila baru pertama kali mendengarkan album ini—seperti halnya saya. Dengan tempo musik yang selambat nenek-nenek berjalan, menyeberang jalur zebra.

Secara garis besar album The Blue Bird, bersuara seperti gelapnya album-album Black Sabbath—kadang lebih transcendental. Cek saja trek berdurasi 7 menit “O Ye of Little Faith,” yang petikan gitar-nya sulit dijelaskan dengan kata apapun. Atau suram-nya trek “Hell Is a City,” maupun trek “Somnambulist” yang agak spacey.

Selama 50 menit, telinga kalian akan disuguhi suara distorsi gitar yang crunchy—kadang bertumpuk melodi. Dengan vokal parau, yang memang agak absurd. Untuk menemani hari kalian berganti pagi untuk kesekian kali, yang tak sekadar menunggu mati.

Arch Enemy – Covered In Blood

18 Januari | Savage Messiah Music

Semenjak masuknya Alissa White-Gluz menggantikan posisi vokalis Angela Gossow di tubuh band asal Swedia ini pada tahun 2014, sebenarnya yang terbesit di pikiran saya adalah bagaimana nasib The Agonist—band yang ditinggalkan Alissa—untuk selanjutnya. Pasalnya, karakteristik clean vocal Alissa sulit untuk digantikan. Sekitar satu tahun kemudian, The Agonist mengeluarkan album keempat dengan vokalis barunya Vicky Psarakis. Dan hasilnya, tidak cukup mengecewakan.

Maaf kalau agak meleset dari substansi, memang begini kalau sudah membicarakan vokalis idola. Baiklah, mari kita bicarakan album kompilasi cover milik Arch Enemy ini. Sejak merilis EP perdana Burning Angel pada tahun 2002, band yang didirikan Michael Amott dan Johan Liiva ini sangat produktif mengeluarkan lagu-lagu cover.

Ada 24 lagu cover milik Arch Enemy sampai saat ini, mulai dari cover Judas Priest yang heavy sampai Shitlickers yang crusty. Covered In Blood secara otomatis, mempertemukan 3 vokalis mereka—perlu saya sebutkan?

Bagi die-hard fans Arch Enemy, tentu album kompilasi ini akan membuka gerbang ingatan mereka ke masa-masa band melodic death metal ini pertama kali dibentuk. Scandinavian style death metal, dengan durasi sekitar satu jam.

Malevolent Creation – The 13th Beast

18 Januari | Century Media Records

Awal bulan Juli 2018 lalu, metalheads sedunia dikejutkan dengan berita kematian vokalis yang telah membantu band death metal Florida ini berhasil menelurkan 8 album. Brett Hoffmann, meski do’i tiga kali keluar masuk di tubuh Malevolent Creation. Posisinya sebagai front-man tentu akan sulit dilupakan, apalagi berkat album debut “The Ten Commandments” yang diamini sebagai salah satu penanda berkembangnya musik death metal telah tersebar di planet ini. Hoffmann, terakhir kali meninggalkan Malevolent Creation pada 2016 lalu. Kemudian bergabung dengan band death metal New York City, Fire For Effect pada awal 2017.

Di album penuh ke-13 ini, menyisakan original member gitaris Phil Fasciana. Sisanya personil baru yang bergabung sejak 2017 lalu, Josh Gibbs (bass), Philip Cancilla (drum), dan Lee Wollenschlaeger (gitar, vokal). Untuk kualitas aransemen-nya, tak usah dipertanyakan. “The 13th Beast” tetap konsisten memainkan death metal yang tidak terlalu kompleks, namun tetap menghasilkan memorable effects ke telinga para pendengarnya. Cek saja, trek berjudul Release the Soul milik mereka.