• Penulis: Taufiq Rahman, Harlan Boer, Adi Renaldi
  • Judul: New Dawn Fades: Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium
  • Halaman: 158
  • Rilis: Oktober 2018
  • Penerbit: Elevation Books

Beruntung jika anda memiliki musik untuk menjaga ingatan akan masa lalu.

2009: Tahun Terbaik, hal 21

Setiap hubungan emosional antara manusia dan tempat didefinisikan sebagai sense of place. Bagi saya pribadi mendengarkan sebuah musik secara bersamaan pula akan melahirkan sense of place itu sendiri, lebih dalam lagi ia akan merujuk pada place attachment. Bagaimana ruang sempit nan pengap seperti kamar saya memiliki kontribusi yang signifikan dalam menjabarkan makna emosional sebuah lagu, dimana dalam lagu-lagu tersebut tentu akan menciptakan kenangan-kenangan baru selama saya mendengarkannya.

Sebagai generasi yang lahir di 90’an, saya tidak tumbuh dengan lagu-lagu The White Stripes, The Strokes, sampai Vampire Weekend. Meleset jauh dengan tema-tema besar yang ditawarkan dalam buku ini, seringnya saya tumbuh ditemani album-album awal Cradle of Filth yang ultra-noir, keren-nya era dua album awal All Shall Perish, dan tak lupa pula bagaimana boyband se-generik Westlife bisa men-injeksi saya terlalu dalam pada waktu itu.

Namun tak apalah, berhubung saya mendengarkan musik tak melulu dalam lingkaran yang saya sukai saja. Dengan tendensi untuk menemukan musik-musik yang jauh dari lingkaran saya, menjadi alasan personal kenapa saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku ini.

Dan berikut beberapa musisi yang saya temukan dalam New Dawn Fades, yang mungkin sudah kalian temukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Savages

Sungguh terkutuk saya terlambat menemukan band post/punk asal London yang satu ini. Sejauh ini Savages telah mengeluarkan 2 album penuh sejak mereka terbentuk 2011 lalu, Silence Yourself (2013) dan Adore Life (2016). Terus terang saya maraton mendengarkan 2 album Savages melalui penyedia layanan musik streaming—yang dikutuk oleh salah satu kontributor dalam buku ini.

Memang benar adanya seperti ulasan dalam buku ini. Sebagai band post/punk atau bukan, Savages tidak sedang mengemis identitas agar di-label-i sebagai semacam band feminist, secara sadar sekaligus unik Savages jauh melampaui apa yang secara generik dilakukan para aktivis feminist di luaran sana, yang mengumbar tetek lalu berlari-larian di depan kamera televisi.

Savages mengusung konsep lirik tentang kesetaraan gender—kalau memang perlu, agak sulit membicarakan “kesetaraan” dari mata Savages. Sekali lagi, isu kesetaraan yang mereka usung tidak sedang menuntut emansipasi dan keadilan hak dengan laki-laki. Melainkan mereka sedang menjadi seorang “laki-laki” itu sendiri.

Semakbelukar

Jujur, saya memiliki antologi mereka sekitar setahun yang lalu. Itu pun saya dapatkan karena ada salah satu label rekaman yang sedang cuci gudang menjelang lebaran, pada tahun 2017 kalau tidak salah. Tanpa pikir panjang, langsung saya sikat beberapa katalog yang masih tersedia. Akhirnya, Semakbelukar menjadi salah satu yang mereka kirim pada waktu itu.

Terima kasih untuk New Dawn Fades, yang membuat saya memutar CD ini jadi lebih khidmat. Karena di awal saya mendengarkan lagu-lagu Semakbelukar, dengan segala penghormatan dengan grup asal Palembang ini saya agak ignorant dengan musik yang mereka mainkan.

Musik yang mereka bawa tergolong sederhana apabila harus dikategorikan sebagai wujud sebuah band, sepanjang lagu berkumandang kalian hanya akan disajikan dengan suara mandolin, akordeon dan jimbana—atau bisa disebut juga jimbe—yang mendominasi, ditambah suara vokal David Hersya yang ultra-melayu. Se-mirip grup qosidah kalau boleh saya bilang.

Mengusung tema-tema lirik keseharian yang sederhana—sekaligus philanthropy—menjadikan Semakbelukar sebagai band folk melayu yang susah dicari tandingan-nya—apabila musik memang untuk di-tanding-bandingkan—untuk saat ini.

Semakbelukar memutuskan bubar pada 2013 silam, dan konon tak tanggung-tanggung alat musik yang mereka gunakan juga ikut dihancurkan pada saat penampilan terakhir mereka. Sebagai penanda grup ini tak akan pernah kembali lagi.

Namun, Semakbelukar akan selalu menjadi entitas yang abadi di hati para penggemarnya. Bahwa musik tak melulu harus di-konstruksi-kan dengan luruhan distorsi, dan juga senggama antara stick dengan drum. Toh, pada akhirnya format sounds sederhana lah yang membuat grup ini dicintai.

Caravan



Menemukan band ini sama halnya ketika kalian pertama kali menemukan Senartogok/Yab Sarpote dengan gitar oblong-nya menyanyikan peristiwa-peristiwa sosial politik di ranah-nya masing-masing. Kalian akan menangkap semangat yang sama ketika mendengarkan Caravan—atau lebih malahan.

Caravan dibentuk oleh 2 aktivis mahasiswa Universitas Ramkhamhaeng (Thailand), Surachai “Nga Caravan” Jantimathawn dan Wirasak Sunthawsi—saat gerakan mahasiswa memiliki peran penting dalam menjatuhkan rezim diktatorial Thanom Kittikachorn pada 1973. Mereka bersimpati dengan petani kelas pekerja di Timur Laut Thailand, dan kemudian masuklah 2 personil lainnya Mongkhon Uthok and Thongkran Thana.

Band ini juga pendukung Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD atau “Baju Kuning”) dan sering menggelar pertunjukan selama protes—terhadap perdana menteri Thaksin Shinawatra pada tahun 2006 dan protes anti-pemerintah pada 2008. Sampai saat ini, album-album Caravan masih susah untuk diburu.

Swans

Gitar, drum, bass, gitar lap steel, dulcimer, dan berbagai varian alat perkusi lainnya, tak akan pernah mengira apabila digabungkan akan menghasilkan suara yang tak pernah saya kira sebelumnya. Bahkan—menurut saya—melebihi band black metal dari belahan dunia mana pun ihwal tentang merekonstruksi musik yang mengerikan, gelap, sekaligus substansial.

Swans, adalah band eksperimental rock asal NY yang berdiri lebih dari 20 tahun yang lalu. Membutuhkan ultra-konsentrasi, sekaligus kesabaran-ekstra apabila kalian pertama kali mendengarkan band ini.

Omar Khorshid

Omar Khorshid lahir pada 9 Oktober 1945, yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya pada 29 Mei 1981 dalam sebuah kecelakaan mobil. Semasa hidupnya, Omar adalah seorang musisi, komposer, pengiring, dan juga seorang aktor dari Mesir.

Dirinya juga pernah bergabung dengan orchestra Umm Kulthum. Mengutip dalam buku ini “Terlebih lagi, musik yang diciptakannya mencoba melampaui batasan Barat dan Timur malah disalahpahami sebagai musik eksotis padang pasir belaka.” Dan benar, sampai hari ini pun ketika saya mendengarkan aransemen-aransemen Timur Tengah a la Omar Khorshid otak saya langsung membayangkan penari-penari perut yang seksi.

Saya rasa pemberian sub-judul “Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium” memang tepat adanya. Seperti halnya semua buku panduan, buku kecil ukuran genggam tangan ini memang tak lepas dari arti harfiah “panduan” itu sendiri. Yang memandu kita untuk mengetahui, lalu merasakan sendiri sebuah akar dari musik yang sedang mereka bicarakan, syukur-syukur kita mau menggali-nya lebih dalam.