Album – Album Kelas Bulu Yang Mudah Dilupakan Waktu

Tahun 2018 menyisakan 1 bulan lagi, dan hanya akan lewat begitu saja tanpa kenangan-kenangan yang berarti apabila saya tak menuliskan apapun selama menjalaninya. Resolusi? Bukan. Itu terlampau jauh dari pikiran saya jikalau resolusi selalu dikaitkan dengan sebuah pencapaian-pencapaian yang belum atau akan dicapai.

2018, tahun yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk kembali menulis. Meski saya sepenuhnya sadar, tulisan-tulisan yang saya buat jauh mendekati kata bagus. Apabila kalian melepaskan hormon endorphin dengan cara masturbasi, saya membuat kumpulan tulisan buruk untuk mendapatkan euphoria yang penuh sensasi.

Dan berikut beberapa album buruk yang pernah singgah ke telinga saya. Dengan sudut pandang subjektif tentunya.


10. Pandji Pragiwaksono – Discography (2008 – ?)

“Without music, life would be a mistake.” —Nietzsche

Apabila alasan Pandji memutuskan terjun ke dunia musik adalah ketika membaca Twilight of the Idols, saya yakin Eyang Nietzsche di alam baka sana sedang melakukan penyucian dosa bersama Karl Marx.

Jujur, ini kali pertama saya mendengarkan lagu-lagu Pandji, itupun karena unsur ketidak-sengaja-an belaka. Single terbarunya Makan-Makan muncul begitu saja tatkala saya sedang mendengarkan lagu-lagu terbaru yang disediakan Spotify di setiap awal Minggu. Sumpah demi umur saya yang akan bertambah setiap tahun, keseluruhan lagu Pandji membuat saya menyesal pernah mendengarkan musik rap maupun hip hop yang lahir 40 tahun silam ini.

Apabila rap/hip hop selalu identik dengan pretentious rhyme, tentu Pandji adalah rapper dengan nomor urut paling buntut—satu clan dengan Young Lex & Kemal Pahlevi. Mau bukti? Silahkan cek reff Lagu Melayu miliknya;

“Jalan-jalan ke pasar ketemu mbak ayu

Duduk bersamanya dan minum-minum jamu

Jangan pernah malu punya darah melayu

Karena itu kekayaan milik bangsamu”

Dengan kedalaman lirik se-intens anak-anak SMA yang dengan terpaksa karena disuruh mengarang puisi oleh guru killer-nya ini, cukup membuat saya sadar bahwa mencari duit itu memiliki banyak cara. Dan satu lagi, bagaimana delivery/flow Pandji juga menyadarkan saya untuk kesekian kali bahwa dirinya nge-rap tanpa satupun referensi MC.

Apabila kalian masih ngotot kalau album-album Pandji masih bisa dibilang bagus, entah parameter seperti apa yang sedang kalian pergunakan.

9. Black Veil Brides – Discography (2010 – ?)

Sejak kemunculan mereka pada tahun 2010, dengan cover album wajah vokalis-nya, Andy Biersack—yang kalau di pasang sebagai simbol baliho partai mana pun, tak seorang pun akan berani mencoblos. We Stitch These Wounds hadir sebagai album pen-cerah bagi remaja-remaja tanggung yang sedang mabuk asmara, broken-home, dan selusin alasan keren lainnya untuk menggambarkan bahwa masa remaja memang harus dihabiskan dengan mengikuti arus. Dan syukur-syukur menemukan muara-nya (baca: jati diri).

Untuk konstruksi musiknya, tentu tak ada yang salah, bagus malahan. Menggabungkan unsur rock dengan sentuhan metal, walaupun takaran-nya tak melebihi unsur pop-nya. Namun dengan alasan subjektif, album-album BVB memang tak layak dengar di kuping saya. Dan terkutuk-nya, saya memang membuat jarak dengan album-album yang kadarnya hanya melintas dengar saja—saya tak sampai hati menyebutnya dengan album kelas buntut.

8. Internal Bleeding – Discography (1995 – ?)

Meski Internal Bleeding adalah salah satu prototipe sub-genre slamming dari New York scene, sejak kemunculan-nya melalui album Voracious Contempt, saya memang tak begitu tertarik dengan band ini. Mid tempo yang bahkan lebih pelan dari band-band slow rock mana-pun ini pernah dua kali bubar-jalan dan memutuskan kembali ke dunia musik pada 2011 silam.

Apabila umur sebuah band menjadi sebuah representatif akan keluarnya konsep-konsep baru nan lebih segar, tentu IB tetap enggan terpengaruh atau membuat inovasi meski badai slamming modern sudah mulai menyapu Amerika Serikat. Ambil saja Devourment, Cephalotripsy, sampai Pathology sebagai contoh.

Band yang masih menyisakan original member Christopher Pervelis ini masih tetap konsisten menyajikan slamming yang lazy-tempo dengan membawa semangat hardcore 80’an. Dan saya lebih memilih mendengarkan album-album Danilla yang muram daripada harus mendengarkan Internal Bleeding yang selalu monotone.

7. EDEN – Vertigo (2018)

Satu lagi idola remaja yang menurut saya gagal membuat impress melalui album debut-nya, Jonathon Ng. Pria Irlandia blasteran Cina ini mengeluarkan full albumnya pada pertengahan Januari lalu, dan sebenarnya ini bukan kali pertama dirinya membuat karya. Tercatat pada 2013 Ng sudah lebih dikenal melalui moniker The Eden Project, yang mengeluarkan 1 album penuh & 3 EP. Kemudian memutuskan benar-benar berhenti untuk menggunakan nama ini pada tahun 2015.

Setelah saya cari-cari, apa yang akhirnya membuat saya tak begitu menyukai album EDEN. Ternyata terletak pada kekuatan vokal dan juga departemen musik yang ia konstruksi-kan sendiri. Berusaha setengah mampus menjadi James Arthur dengan tulang punggung musik elektro yang sarat eksperimen, dan terkutuk-nya begitu janggal di telinga saya.



6. 6ix9ine – Day69 (2018)

Apabila di scene hip hop lokal kita punya Young Lex untuk me-representasi-kan hip hop adalah sebuah era kemunduran, di US mereka punya 6ix9ine (baca: six nine) untuk menggambarkan secara benderang bagaimana musik yang lahir 40 tahun silam ini begitu menyedihkan prospeknya.

Six nine—saya malas menuliskan nama panggung-nya dengan abjad & angka—lahir dengan nama Daniel Hernandez 22 tahun silam. Menjadi benar-benar populer melalui single Gummo yang ia keluarkan pada akhir 2017 an, yang terkutuk-nya menempati posisi 12 Billboard Hot 100 dan memiliki sertifikat RIIA. Bertulang-punggung musik trap yang gelap, dan mengulang term “bitch” & “nigga” sesering kalian menjalani ritual masturbasi pada pagi hari, cukup lah untuk memutuskan bahwa skill Six nine dalam mengolah kata lebih buntut dari persona-nya sendiri.

Day69, mix-tape yang berisi 11 lagu dan 1 remix (Gummo) ini jika kalau kalian putar awal sampai akhir, saya bertaruh 80% dari kalian akan kejang-kejang tak beraturan, sembari berdoa kepada Tuhan “cepat binasakan ini orang!

Bayangkan saja bagaimana seorang rapper yang hanya memiliki amunisi pengulangan-kata “bitch” & “nigga” ini bisa mencapai posisi 3 dalam Top R&B/Hip-Hop Albums di Billboard?

Saya kehabisan kata-kata.

Sumber: Facebook

5. Cardi B – Invasion of Privacy (2018)

Saya tak pernah menyangka di tahun 2018 ini ada album yang lebih buruk dari album baru Nicki Minaj, Queens.

Kalau ada sisi paling menarik dari Cardi B, hanya sebatas enak dipandang saja untuk dijadikan bahan masturbasi. Dari segi musik, hanya jemaat acara Inbox & Dahsyat lah yang mengamini bahwa debut album dari wanita yang mengawali karir sebagai penari telanjang ini mengeluarkan album yang sarat-estetika.

4. Rich Brian – Amen (2018)

Sejak kemunculan-nya pertama kali melalui moniker Rich Chigga pada awal 2016 lalu, dengan single Dat $tick yang begitu men-jamur di kuping-kuping millennial. Saya salah satu orang yang selalu memaki teman saya jikalau ada yang memutar lagu ini di setiap tongkrongan, dengan nada ancaman “kalau enggak lu mati’in, gue banting hp lu!

Jujur, delivery pria kelahiran ’99 ini sama sekali tak menarik di telinga saya. Dengan flow orang teler yang kekurangan asupan nutrisi karena kelebihan mengkonsumsi amphetamine ini cukup lah untuk dijadikan alasan mengapa ia harus berakhir di “tulisan buruk” saya.

Amen, debut album yang dirilis label 88rising pada awal Februari lalu ini menempati posisi 18 di Billboard 200. Berisikan 14 lagu, yang secara garis besar menceritakan tema-tema remeh-temeh seperti perjalanan karir-nya, kisah asmara, dan beberapa kehidupan pribadi sang rapper. Dengan departemen musik funk/hip hop cukuplah untuk menemani kehidupan kalian yang sangat membosankan, sembari membayangkan hari esok datang jauh lebih menyedihkan.

3. Hoobastank – Push Pull (2018)

Kalian tentu ingat dengan single “The Reason” yang begitu memorial di sekitar tahun 2003, yang menjadi playlist wajib di radio-radio lokal kesayangan kita. Bagi saya yang waktu itu masih umur 13-an, mendengarkan The Reason seperti halnya mendengar khotbah-khotbah di masjid, yang fungsinya menguatkan iman agar tetap bertahan tatkala masa sekolah begitu banyak godaan untuk kabur dengan cara memanjat tembok belakang.

Dengan berat hati saya harus memasukkan nama salah satu band favorit yang pernah menjadi “penyelamat” dalam masa-masa SMP yang kadang membosankan tersebut. Lalu, apa yang salah dengan album terbaru dari band yang sekarang di gandeng Napalm Records ini?

Apalagi kalau bukan untuk urusan konstruksi musiknya. Push Pull adalah album ter-lembek sekaligus paling buntut yang mereka buat dalam 20 tahun terakhir ini, bahkan tak satu trek pun yang berhasil mampir terlalu lama di telinga saya. Istilah keren-nya “There is nothing ear-worm anymore.”

Sangat mengejutkan bahwa Push Pull terlahir dari band yang pada saat awal kemunculan-nya pernah merekonstruksi funk metal di bawah moniker Hoobustank ini. Se-mirip perjalanan karir musik Linkin Park setelah melepas A Thousand Suns, yang semakin hari semakin bermetamorfosis menjadi band elektro pop. Naudzubillah

2. Dita Von Teese – Self Titled (2018)

Memang tak mudah menjadi seorang seniman yang multi-talenta, apalagi harus dituntut dengan pekerjaan yang kudu sempurna. Dita Von Teese, menjadi salah satu contoh bagaimana gagal-nya ia membangun image di ranah musik. Kalau kalian masih asing dengan penyanyi asal Michigan ini, akan saya beri gambaran sedikit.

DVT merupakan seorang model, penari burlesquecostume designer, entrepreneur, vedette dan juga seorang aktris. Kemudian sialnya, ketika memutuskan untuk terjun ke dunia musik pada awal 2013 silam, tatkala menjadi musisi pendamping untuk band Monarchy dengan single “Disintegration“-nya, bagi saya kualitas vokal DVT hanya cocok sebatas sebagai; senandung nina-bobo bagi seorang bayi yang terus merengek, karena ASI-nya tak kunjung mengalir dari lubang tetek. Kejam? Memang.

Pada pertengahan bulan Februari kemarin, DVT mengeluarkan album debut-nya. Dan, hasilnya? Karakter vokal wanita ini masih sangat kurang bertenaga apabila harus mengendarai musik-musik elektro-pop vintage yang sarat erotis seperti ini. Se-mirip nyawa album debut Aura Kasih yang sangat pas-pas an dan miskin estetika. Saya berani bertaruh, kalian akan lebih menyukai performa DVT di atas panggung burlesque daripada harus menonton konser musiknya.

1. Ought – Discography (2012 – ?)

Entah bagaimana caranya untuk menikmati tipe-tipe post-punk yang seperti ini. Mungkin, kuping saya belum terbiasa. Sampai saat ini, band asal Kanada ini masih tetap konsisten beranggotakan Tim Darcy (guitars, vocals), Matt May (keyboards), Ben Stidworthy (bass), dan Tim Keen (drums, violin). Se-konsisten mereka menghidangkan musik yang cukup aneh untuk saya konsumsi, sampai saat ini.

Bahkan, majalah online se-kaliber Pitcfork pun memuji “keanggunan” album debut Ought yang dirilis Constellation Records pada tahun 2014 silam. Berarti memang benar, telinga saya memang agak bermasalah apabila harus dihadapkan dengan tipe-tipe sounds yang seperti ini. Namun tak apalah, apa gunanya juga menyalahkan sepasang lubang kuping. Saya juga sepenuhnya paham, ini hanyalah perkara perbedaan selera musik saja.



PS: Nomor urut di atas tidak melambangkan album siapa yang paling buntut, saya hanya menuliskannya secara acak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.