Sekitar satu tahun kemarin saya kebingungan mencari etimologi dari “scene” itu sendiri, yang rencananya akan saya masukkan dalam kolom opini di zine saya. Berhubung saya belum menemukannya, kemudian saya urungkan saja niat untuk membicarakan scene di kota saya—scene yang saya maksud berhubungan dengan relasi musik. Nah, baru kemarin akhirnya saya temukan makna scene dengan penjelasan yang mudah diterima akal. Karena selama ini scene yang sering saya dengar selalu berkaitan dengan sebuah adegan dalam film.

Merujuk pada Cambridge Dictionary, salah satu contoh dari istilah “scene” merupakan kata benda dalam klasifikasi area/wilayah. Lebih rinci lagi “scene” merupakan kata benda tunggal; area aktivitas tertentu dan semua orang atau hal yang terkait dengannya. Di situ di-contoh-kan dengan kalimat; Rap music arrived/came/appeared on the scene in the early 1980’s.

Capture

“Kesimpulan yang saya dapatkan, scene merujuk pada suatu tempat kejadian dan relasi yang menaungi, dalam hal ini musik.”

Tentu kalian setuju apabila scene dikategorikan sebagai sebuah sub-kultur. Apabila jawaban kalian IYA, silahkan membaca artikel ini lebih lanjut. Namun apabila pemikiran kita tak selaras, saya sarankan untuk menutup jendela ini. Secepatnya.

Sub-kultur ini dimulai pada pertengahan 2000’an setelah fashion emo lebih dikenal banyak orang, kami yang berdomisili di desa terpencil pun ikut merasakan badai emo yang luar biasa dahsyatnya pada waktu itu. Dengan gaya rambut rata kanan/kiri (beruntungnya tidak sampai dicat multi-warna), celana jeans yang ujungnya runcing (di daerah saya disebut celana pensil, entah kalau di tempat kalian), dan yang terakhir dalam ingatan saya, kaos oblong super-ketat (biasanya berwarna hitam) yang mungkin milik adik perempuannya dipakai untuk menghadiri berbagai acara musik (mainstream/extreme).

Selama akhir 2000’an dan awal pertengahan 2010 tak disangka sub-kultur ini menjadi begitu besar di kalangan musisi, baik mainstream maupun side-stream. Nah dari sini pergolakan pun dimulai, akibat sub-kultur ini sangat mudah dijumpai di pojokan manapun, para metalheads pun melayangkan kritik-kritik pedas-nya dengan menyebut sub-kultur ini sebagai “shitcore“, “emocore“, atau bahkan “mallcore“, intinya mereka membenci apapun genre musik yang berakhiran “core”. Tentu tak usah saya sebutkan genre apa saja itu, saya tidak ingin merendahkan pengetahuan para pembaca.

Salah satu penanda kesuksesan sub-kultur ini dalam ranah musik ialah munculnya band asal New Mexico, Brokencyde. Lewat album debut-nya I’m Not a Fan, But the Kids Like It! menapak posisi 86 Billboard 200 pada 2009.

Capture1


Era 2000’an tentu tak akan terlepas dari efek adiktif sebuah situs daring sosial Myspace. Seperti halnya Facebook, Twitter, maupun Instagram, platform ini setiap tahun juga melahirkan berbagai selebriti-nya sendiri. Salah satunya trio cewek asal California yang tergabung dalam grup vokal elektronik bernama Millionaires. Melalui single “Just Got Paid, Let’s Get Laid” yang mereka rilis pada 2009 mendapat berbagai respon dari banyak kalangan musisi maupun kritikus musik berkat liriknya yang eksplisit—saya urungkan niat untuk mengutip salah satu liriknya, soalnya saya haqul yakin kalian akan terangsang. Kemudian terlepas dari segala kontroversi grup ini, mereka menjadi sangat populer di situs daring Myspace pada waktu itu. Menurut saya hanya ada dua tipe pendengar Millionaires, sange mendengarkan lirik-lirik vulgar mereka, atau yang kedua, mengernyitkan dahi seperti halnya kalian mendengarkan single Bad Ass milik Awkarin.



Meski fenomena sub-kultur ini menuai banyak respons, entah positif maupun negatif, toh kenyataannya gaya hidup yang mereka jalani tetap hidup meski tanpa tulisan yang sedang kalian baca saat ini. Mulai dari Blood on the Dance Floor3OH!3, Falling In Reverse, sampai Jeffree Star masih hidup dan akan terus menghidupi scene ini. Sampai kapanpun.

Jefree Star

*PS: Apabila kalian masih awam dengan scene ini, saya sarankan jangan coba-coba untuk mencari lebih lanjut nama-nama grup yang saya cetak tebal di atas.