Aborted, Persembahkan Album Horror Di Akhir September

  • Artis: Aborted
  • Album: TerrorVision
  • Rilis: 2018
  • Label: Century Media Records
  • Lokasi: Beveren, East Flanders, Belgia

Daftar Lagu:

  1. Lasciate ogne speranza
  2. TerrorVision
  3. Farewell to the Flesh
  4. Vespertine Decay
  5. Squalor Opera
  6. Visceral Despondency
  7. Deep Red
  8. Exquisite Covinous Drama
  9. Altro inferno
  10. A Whore d’Oeuvre Macabre
  11. The Final Absolution

21 September lalu, Aborted resmi mengeluarkan album penuhnya yang ke-10. Tepat 17 hari sebelum saya merayakan ulang tahun yang ke-28. Sengaja saya tulis, sebagai kado ulang tahun kalau-kalau mulai jadi pelupa. TerrorVision, merupakan album ter-brutal sekaligus ter-rumit yang pernah saya dengarkan di sepanjang perjalanan tahun 2018. Maklum, satu tahun terakhir ini saya mulai jadi pemalas; malas mendengarkan musik, malas membaca buku, malas mencari film-film yang layak untuk diperdebatkan. Dan yang paling berengsek, malas menulis.

Entah kenapa, rutinitas harian yang selalu saya nikmati pada tahun-tahun sebelumnya buyar begitu saja. Sudahlah, tak ada gunanya juga menceritakannya pada kalian. Toh saya yakin, tulisan ini juga miskin pembaca.

Kembali ke album TerrorVision. Sudah 23 tahun band yang masih menyisakan original member-nya ini, Sven de Caluwé, tetap konsisten menghadirkan album-album dahsyat nan penuh imaginary bagi para pendengarnya. Terhitung sejak 3 album terakhir mereka, Global Flatline (2012), The Necrotic Manifesto (2014), dan Retrogore (2016). Aborted berhasil menjaga tingkat intensitas musiknya tetap pretentious dan gila. Oh iya, EP Bathos (2017) juga menjadi gerbang pembuka untuk album penuhnya yang ke-10 ini.

Sekarang, saatnya kalian untuk duduk tenang dan menikmati kengerian mereka.

Simak preview album penuh Aborted, TerrorVision

Album ini dibuka dengan judul yang sama ketika Dante Alighieri membuat Inferno pada 1308 sampai pada ajal-nya 1321. Menurut saya pribadi, intro Lasciate Ogne Speranza seharusnya tak usah dimasukkan kedalam daftar lagu, cukup dijadikan satu dengan trek TerrorVision. Toh, 10 lagu merupakan angka konvensional yang pas untuk dijadikan komposisi dalam sebuah urutan nominal.

Dalam trek TerrorVision, mereka mengajak Spiros Antoniou (Septicflesh) untuk beradu vokal dengan Sven. Tak usah dibayangkan bagaimana cara Aborted me-ramu komposisi musiknya yang begitu kompleks dan ter-elaborasi. Sejak awal mereka bermain dengan cepat, seperti halnya Aborted yang selalu kalian kenal. Bedanya, kali ini mereka sengaja menekankan nuansa-nuansa horror Blackened ala sebut saja Behemoth. Musik brutal nan kompleks berpadu dengan kengerian Black Metal, tentu tak ada alasan untuk tidak menikmatinya.

Simak video lirik Aborted, TerrorVision

Farewell to the Flesh, masih dalam komposisi yang sama. Screaming panjang ala vokalis Black Metal, tremolo riffing yang agak mirip suara keyboard, ditambah suara gitar yang melodius membuat trek ke-3 ini menjadi lagu favorit dalam album ini. Berbicara tentang lirik, tentu saya akan selalu berpegang teguh pada metode yang selalu saya andalkan, metode multi-tafsir. Sebelum band yang bersangkutan mengeluarkan pernyataan-pernyataan resmi perihal lirik yang mereka tulis, tentu menafsirkan sebuah lirik menjadi begitu menggairahkan bagi seorang fans musik seperti saya.

Kalau kalian baca liriknya, si pembuat menempatkan dirinya sebagai pelaku utama yang berperilaku berengsek, suka menghujat, yang tak takut pada kematian. Bahkan, kaum Nasrani pun disuruh bertekuk lutut di bawah kakinya. Entah kisah apa yang melatarbelakangi narrative tersebut, saya terlalu malas untuk mencarinya terlalu dalam. Yang jelas, kematian hanyalah perpisahan dengan daging. Seperti penggalan liriknya; “I have lived as a god and shall die as one, Farewell to the flesh.”

Entah badai apa yang menimpa Aborted, sehingga sebagian menitikberatkan konsep lirik bertulang-punggung gagal-nya sistem-sistem yang dibangun dengan pondasi agama, secara eksplisit mereka kawinkan dengan tema yang berdarah-darah (baca: gore). Vespertine Decay, bila berkaca dari alur video klip-nya tentu kalian akan mengerti apa yang saya maksudkan.

Simak video musik Aborted, Vespertine Decay

Squalor Opera, merupakan single yang mereka muntah-kan pada awal Juli lalu, cukup mencengangkan ketika memutar video klip-nya. Berlatar belakang lampu multi warna, Sven, Ken, Mendel, Ian, dan Stefano men-koreografi-kan musik Brutal Death Metal mereka sendiri dengan cukup vivid —kalau bukan unik. Tentu nama-nama musisi EDM yang kemudian menghiasi kepala saya, sebut saja Alan Walker, Skrillex, sampai Dua Lipa.

Simak video musik Aborted, Squalor Opera

Tak terasa hampir 20 menit mendengarkan lagu-lagu mereka yang begitu kompleks, tak mengherankan apabila earphone yang sedang saya pakai memaksa untuk dilepas sejenak. Memberikan udara untuk kedua telinga sama pentingnya mendengarkan album mereka. Lanjut trek ke-6, Visceral Despondency di-teriakan Sven dengan begitu lantang. Berlatar belakang lirik depresi yang bahkan terlalu mudah untuk diterjemahkan pada usia belasan ini mengendarai departemen musik dengan tempo cepat, shredding rumit, dan dentuman drum menggelegar. Deep Red, mungkin satu-satunya dalam daftar lagu di album ini yang memainkan tempo sedang. Ambil saja Shredding My Human Skin dari Cannibal Corpse sebagai persamaan mikro-nya. Namun tenang untuk kalian para pemuja musik kecepatan, bukan Aborted namanya kalau mereka tak menaikkan tempo di pertengahan lagu.

Sumber: Facebook

Exquisite Covinous Drama, membuat saya kembali mengimani konsep imajinasi, yang bebas, liar, tanpa keteraturan. Dengarkan saja ketika lagu ini menginjak di menit 2:40 an, saya membayangkan kelak band ini akan membawakan lagu-lagunya dalam bentuk orchestra Symphonic Death Metal ala Fleshgod Apocalypse di sebuah panggung besar. Dan kaum puritan Aborted merasa dikhianati dengan konsep baru yang ditawarkan band pujaan-nya ini, namun bagi saya quintet Belgia ini telah mengeksplorasi lagu-lagunya ke level selanjutnya. Yang tidak monotone, stuck, atau kehabisan ide.

Altro Inferno, lirik yang diadopsi dari plot film The Other Hell ini juga masih tidak mengecewakan telinga saya. Saya tidak sabar sing a long dengan Sven kalau-kalau mereka nyasar ke Indonesia saat me-lakon-i tour Eropa-nya. Semoga.

Altro inferno – spirit of the dead
Altro inferno – machiavellian deceit
Altro inferno – the other Hell in me

Kemudian album ini ditutup dengan 2 lagu, yang masing-masing mengundang vokal tamu favorit saya, Sebastian Grihm (Cytotoxin) dan Julien Truchan (Benighted). Bulan ini merupakan anugerah tersendiri bagi saya secara personal. Tak ada kue ulang tahun, lilin berjejer, permintaan-permintaan omong kosong (baca: doa). Hanya album-album berengsek yang akan saya review di kemudian hari. Menyedihkan memang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.