• Artis: Aborted
  • Album: TerrorVision
  • Rilis: 2018
  • Label: Century Media Records
  • Lokasi: Beveren, East Flanders, Belgia

Daftar Lagu

01. Lasciate ogne speranza (instrumental)00:54
02. TerrorVision (featuring Seth Siro Anton)04:33
03. Farewell to the Flesh04:41
04. Vespertine Decay06:00
05. Squalor Opera04:01
06. Visceral Despondency03:32
07. Deep Red03:20
08. Exquisite Covinous Drama05:01
09. Altro Inferno04:49
10. A Whore D’Oeuvre Macabre (featuring Sebastian Grihm)03:01
11. The Final Absolution (featuring Julien Truchan)05:07
44:59

Personil

Sven de CaluwéVocals
Mendel bij de LeiGuitars
Ian JekelisGuitars
Stefano FranceschiniBass
Ken BedeneDrums

21 September lalu Aborted resmi mengeluarkan album penuhnya yang ke-10, tepat 17 hari sebelum saya merayakan hari ulang tahun yang ke-28. Sengaja saya tulis sebagai kado ulang tahun kalau-kalau mulai jadi pelupa. TerrorVision merupakan album ter-brutal sekaligus ter-rumit yang pernah saya dengarkan di sepanjang perjalanan tahun 2018, maklum satu tahun terakhir ini saya mulai jadi pemalas; malas mendengarkan musik, malas membaca buku, malas mencari film-film yang layak untuk diperdebatkan, dan yang paling berengsek yaitu malas untuk menulis. Entah kenapa rutinitas harian yang selalu saya nikmati pada tahun-tahun sebelumnya buyar begitu saja, tak ada gunanya juga menceritakannya pada kalian. Toh saya yakin tulisan ini juga miskin pembaca.

Kembali ke album TerrorVision. Sudah 23 tahun band yang masih menyisakan original member-nya ini, Sven de Caluwé, tetap konsisten menghadirkan album-album dahsyat nan penuh imaginary bagi para pendengarnya. Terhitung sejak 3 album terakhir mereka, Global Flatline (2012), The Necrotic Manifesto (2014), dan Retrogore (2016). Aborted berhasil menjaga tingkat intensitas musiknya tetap pretentious dan gila. Oh iya, EP Bathos (2017) juga menjadi gerbang pembuka untuk album penuh mereka yang ke-10 ini. Sekarang saatnya kalian untuk duduk tenang dan menikmati kengerian mereka.

Album ini dibuka dengan judul yang sama ketika Dante Alighieri membuat Inferno pada 1308, menurut saya pribadi intro “Lasciate ogne speranza” ini seharusnya tak usah dimasukkan kedalam daftar lagu, cukup dijadikan satu dengan trek “TerrorVision”. Toh 10 lagu merupakan angka konvensional yang pas untuk dijadikan komposisi dalam sebuah urutan nominal, dalam trek “TerrorVision” mereka mengajak Spiros Antoniou (Septicflesh) untuk beradu vokal dengan Sven. Tak usah dibayangkan bagaimana cara Aborted me-ramu komposisi musiknya yang begitu kompleks dan ter-elaborasi, sejak awal mereka bermain dengan cepat seperti halnya Aborted yang selalu kalian kenal. Bedanya kali ini mereka sengaja menekankan nuansa-nuansa horror blackened ala sebut saja Behemoth, musik brutal nan kompleks berpadu dengan kengerian black metal. Tentu tak ada alasan untuk tidak menikmatinya.

“Farewell to the Flesh” masih dalam komposisi yang sama, screaming panjang ala vokalis black metal, tremolo riffing yang agak mirip suara keyboard, dan ditambah suara gitar yang melodius membuat trek ke-3 ini menjadi lagu favorit dalam album ini. Berbicara mengenai lirik tentu saya akan selalu berpegang teguh pada metode yang selalu saya andalkan yaitu metode multi-tafsir, sebelum band yang bersangkutan mengeluarkan pernyataan-pernyataan resmi perihal lirik yang mereka tulis tentu menafsirkan sebuah lirik menjadi begitu menggairahkan bagi seorang fans musik seperti saya.

Apabila kalian baca liriknya, si pembuatnya menempatkan dirinya sebagai pelaku utama yang berperilaku berengsek, suka menghujat, yang tak takut pada kematian, bahkan kaum Nasrani pun disuruh bertekuk lutut di bawah kakinya. Entah kisah apa yang melatarbelakangi narrative tersebut, saya terlalu malas untuk mencarinya terlalu dalam, yang jelas kematian hanyalah perpisahan dengan daging, seperti halnya penggalan pada liriknya;

I have lived as a god and shall die as one
Farewell to the flesh

Entah badai apa yang menimpa Aborted sehingga sebagian menitikberatkan konsep lirik bertulang-punggung gagal-nya sistem-sistem yang dibangun dengan pondasi agama, secara eksplisit mereka kawinkan dengan tema yang berdarah-darah (baca: gore). “Vespertine Decay” apabila berkaca dari alur video klip-nya tentu kalian akan mengerti apa yang saya maksudkan.

“Squalor Opera” merupakan single yang mereka muntah-kan pada awal Juli lalu, cukup mencengangkan ketika memutar video klip-nya dengan berlatar belakang lampu multi warna, Sven, Ken, Mendel, Ian, dan Stefano men-koreografi-kan musik brutal death metal mereka sendiri dengan cukup vivid—kalau bukan unik. Tentu nama-nama musisi EDM yang kemudian menghiasi kepala saya, sebut saja Alan Walker, Skrillex, sampai Dua Lipa.

Tak terasa hampir 20 menit mendengarkan lagu-lagu mereka yang begitu kompleks, tak mengherankan apabila earphone yang sedang saya pakai memaksa untuk dilepas sejenak, memberikan udara untuk kedua telinga sama pentingnya mendengarkan album mereka. Lanjut trek ke-6 “Visceral Despondency” di-teriakan Sven dengan begitu lantang, berlatar belakang lirik depresi yang bahkan terlalu mudah untuk diterjemahkan oleh remaja usia belasan ini, mengendarai departemen musik dengan tempo cepat, shredding rumit, dan dentuman drum yang menggelegar.

“Deep Red” mungkin adalah satu-satunya dalam daftar lagu di album ini yang memainkan tempo sedang, ambil saja “Shredding My Human Skin” dari Cannibal Corpse sebagai persamaan mikro-nya. Tenang saja untuk kalian para pemuja musik kecepatan, bukan Aborted namanya kalau mereka tak menaikkan tempo di pertengahan lagunya.

“Exquisite Covinous Drama” membuat saya kembali mengimani konsep imajinasi; yang bebas, liar, dan tanpa keteraturan. Dengarkan saja ketika lagu ini menginjak di menit 02:40-an, saya membayangkan kelak band ini akan membawakan lagu-lagunya dalam bentuk orchestra symphonic death metal ala Fleshgod Apocalypse di sebuah panggung besar, dan kaum puritan Aborted akan merasa dikhianati dengan konsep baru yang ditawarkan band pujaan-nya ini. Namun bagi saya secara personal, quintet Belgia ini telah mengeksplorasi lagu-lagunya ke level selanjutnya; yang tidak monotone, stuck, atau kehabisan ide.

“Altro Inferno” merupakan lirik yang diadopsi dari plot film The Other Hell ini juga masih tidak mengecewakan telinga saya, saya tidak sabar sing a long dengan Sven kalau-kalau mereka nyasar ke Indonesia saat me-lakon-i tour Eropa-nya. Semoga.

Altro inferno - spirit of the dead
Altro inferno - machiavellian deceit
Altro inferno - the other Hell in me

Lalu album ini ditutup dengan 2 lagu yang masing-masing mengundang vokal tamu favorit saya yaitu; Sebastian Grihm (Cytotoxin) dan Julien Truchan (Benighted). Bulan ini merupakan anugerah tersendiri bagi saya secara personal. Tak ada kue ulang tahun, lilin berjejer, permintaan-permintaan omong kosong (baca: doa). Hanya ada album-album berengsek yang akan saya review di kemudian hari. Menyedihkan memang.